{FANFICTION} The Hospital’s Rooftop

5

Main Cast : Jung Jinyoung;

                        Bae Suzy
Other Cast : Baro;

                         Park Yoohee ; etc
Writer : minEH (@hhessti)

terima kasih udah mampir ^^.. selamat membaca ‘3’)

THE HOSPITAL’S ROOFTOP

Dengan bersenandung riang, Jinyoung menata rambutnya yang berwarna dark brown didepan kaca yang berada disudut kamarnya. Hari ini adalah hari dimana dia akan membuat semuanya menjadi indah dan tak kan pernah dia dan wanita yang ia cintai lupakan. Dengan mengenakan kemeja bercorak jeans dan celana panjang cokelat ia bersiap untuk memulai rencananya. Jinyoung meraih buket mawar pink yang ada dimeja belajarnya dan mencium aroma yang keluar dari bunga-bunga itu. “semoga kau menyukai kejutanku,yoohee-ya..” senyum manis tersimpul dari wajah Jinyoung.

Jinyoung sudah mempersiapkan semuanya, dia sengaja kembali dari jepang disaat ulang tahun pacar ny, Park Yoo Hee. Selama setahun lebih Jinyoung meneruskan sekolahnya di Jepang dan semenjak itu hubungannya dengan Yoohee harus dilakukan dengan hubungan jarak jauh. Tapi Jinyoung merasa beruntung memiliki Yoohee karna Jinyoung sangat mempercayai Yoohee, begitu pula Yoohee sangat mempercayai Jinyoung.

Jinyoung melenggang keluar dari pintu depan rumahnya, dan dia melihat kakaknya masih sibuk mencuci mobil sport merahnya. “Hyung !!.. aku pergi !!” teriak Jinyoung sambil berlalu disamping kakaknya, Jung Il Woo.

“ne.. semoga kau sukses dengan kejutanmu. Maap hari ini kau tidak bisa membawa mobil. Kekekeke” Il Woo terkekeh mengingat bagaimana dia mengalahkan adik kesayangannya itu dalam sebuah game d Pcnya hanya untuk menentukan siapa yang akan membawa mobil hari ini.

“bersenang-senanglah dengan Dara Noona, karna dikencan berikutnya aku yang akan menguasai mobil itu dan kau yang akan berkencan dengan menggunakan Bus”

“hahaha.. itu tidak akan pernah terjadi”

“kita buktikan nanti hyung..” Jinyoung melangkah menjauh dari pagar rumahnya dan sesekali dia mencium buket bunga yang dibawanya.

Ketika dia bersiap-siap untuk pergi, cuaca masih sangat cerah. Namun perlahan kini langit biru cerah itu menjadi keabu-abuan. Dan awan putih perlahan menunjukan warna gelapnya. Jinyoung duduk dihalte bus sambil melirik kesamping untuk memastikan bus yang dia tunggu segera tiba.

Tapi bukannya Bus yang ditunggu yang tiba, malah hujan yang perlahan jatuh dari langit kini mulai membasahi tanah tempatnya berpijak. Semula di halte hanya ada dirinya dan seorang Ahjussi, kini mulai disesaki orang-orang yang coba berlindung dari hujan. Dengan kesesakan ini Jinyoung mulai melangkah maju karna merasa tidak nyaman dengan posisinya yang makin terjepit dibagian paling belakang.

Jinyoung melirik jam ditangannya, “aish.. kenapa bus belum datang juga.. kalau seperti ini aku akan terlambat kerumah Yoohee”. Jinyoung kembali melirik orang-orang yang berdesakan yang ada dibelakang nya dan kemudian menghela nafas berat. “kenapa semua berteduh dihalte ini? Bukankah diseberang juga terdapat halte?” suaranya melemah saat dia melihat kearah halte didepannya.

Seorang wanita menggandeng tangan seorang pria dengan penuh mesra. Sesekali wanita itu berbisik ditelinga si pria yang dilanjutkan dengan tertawa bersama.si pria juga dengan lembut mengusap puncak kepala wanita berambut sebahu yang ada disampingnya. Layaknya sebuah drama yang ditanyangkan secara Slow Motion untuk Jinyoung yang kini mulai berdiri mematung. Wanita dan Pria itu adalah YooHee kekasihnya dan Baro sahabatnya sejak masih disekolah dulu.

Seketika pemandangan yang menyakitkan Jinyoung itu tertutupi oleh datangnya sebuah bus tepat didepan halte tempat Yoohee dan Baro berdiri. Jinyoung masih bisa melihat keduanya menaiki bus tersebut dari jendela bus. Ketika bus mulai bergerak secara perlahan, saat itu juga Jinyoung melangkahkan kakinya seolah ingin mengejar bus tersebut dan menanyakan apa yang terjadi diantara Yoohee dan Baro. Namun bus itu tetap melaju tanpa memperdulikan Jinyoung yang berusaha mengejarnya dengan tatapan kosong.

Hujan membasahi tubuh Jinyoung yang kini mematung tepat ditengah jalan raya, airmatanya sudah bergulir bersamaan dengan air hujan yang jatuh kekepalanya dan mengalir memalui wajahnya. Pikiranny sempat benar-benar kosong melihat adengan yang disuguhkan oleh Yohee dan Baro, hingga dia mendengar teriakan dari orang-orang yang ada disekitarnya.

“AWAS !!!” teriakan orang-orang yang berdiri dihalte mengembalikan Jinyoung dari lamunannya. dan saat di membalikan badan, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju kearahnya.

“BRAAAAKKK” terdengar suara hantaman yang sangat keras. Tubuh Jinyoung kini tergeletak ditanah. Buket bunga yang dibawanya masih dia genggam namun kepolak dari bunga mawar pink itu sudah berserakan disekitar tubuh Jinyoung. Jinyoung masih bisa memperhatikan sekitarnya dengan samar, dilihatnya orang mulai berkerumun mengelilinginya dan berusaha mencari bantuan.
Jinyoung menatap lurus kelangit, air hujan tepat jatuh diwajahnya sehingga airmatanya dapat tersamarkan. Perlahan mata itu melemah dan perlahan memejam.

Perlahan mata itu mulai bergerak membuka, beberapa kali dia mengerjapkan matanya karna masih belum terbiasa dengan cahaya disekitarnya. Dilihatnya ruangan dimana sekarang dia berbaring, seluruh ruangan itu dicat putih hanya ada satu lukisan tepat berada ditembok depan ranjangnya.

“ah.. akhirnya kau sadar juga” suara seorang wanita yang duduk tepat disamping ranjang Jinyoung mengagetkannya.

Wanita itu terlihat masih muda, sepertinya umurnya beberapa tahun lebih muda dari Jinyoung. Mukanya yang manis di tambah senyuman ceria yang menghiasi wajahnya dan rambutnya yang panjang tergurai menambah pesona wanita itu. Dan dia memakai baju yang sama dengan Jinyoung, baju pasien di rumah sakit.

“kau siapa?” jinyoung mencoba bangkit dari posisi berbaringnya

“aku ?” wanita itu menunjuk hidung nya sendiri, namun Jinyoung hanya membalasnya dengan tatapan datar .“ahh.. aku Bae Suzy.. kau bisa memanggilku Suzy” Suzy tersenyum manis kearah Jinyoung dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Jinyoung bersalaman. tapi Jinyoung sama sekali tidak menyabut uluran tangan Suzy sehingga Suzy kembali menarik uluran tangannya.

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Jinyoung dingin

“hmm.. aku hanya ingin menemanimu hingga kau sadar, karna tadi ku lihat kau hanya sendiri” Suzy menjawab dengan menunduk karna sedikit takut dengan tatapan dingin dari Jinyoung kepadanya.

“aku sekarang sudah sadar, lalu kenapa kau masih disini ? keluarlah.. aku ingin istirahat” jawab Jinyoung ketus, dan kembali merubah posisi tidurnya memunggungi Suzy

“baiklah..” Suzy bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jinyoung yang bersembunyi dibalik selimut. Namun sebelum pintu kamar Jinyoung tertutup sempurna, Suzy kembali menunjukan kepalanya dari selah pintu. “maap…” kata Suzy pelan

“Apa lagi?” Jinyoung menjawab tanpa menoleh kearah Suzy

“jika kau merasa bosan dikamar dan butuh teman, aku ada diruangan 105. Ruang kedua sebelah kanan dari sini”

“pergilah! Aku inginin istirahat”

“baiklah..selamat beristirahat.” Suzy menutup pintu kamar Jinyoung dan membiarkan Jinyoung kembali dalam lamunannya.
Jinyoung duduk diatas ranjangnya, melamunkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan kisah cintanya dengan Yoohee. Langit begitu gelap, namun taburan bintang malah memperindah kegelapan itu. Dan Jinyoung hanya tersenyum lirih.

Namun lamunanya terhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dia melirik jam yang terpasang didinding putih rumah sakit, dan jam menunjukan pukul dua pagi. Jinyoung kebingungan dengan kedatangan seseorang kekamarnya padahal dia tau jam besuk sudah berakhir sejak tadi. “masuk..” jawab Jinyoung pelan.

Perlahan pintu kamarnya mulai bergeser dan Suzy kembali menampakkan kepalanya dari sela-sela pintu. “ Hai..” Suzy melambaikan tangan ke arah Jinyoung.

“mau apa lagi ?” tanya Jinyoung ketus

“aku merasa bosan dikamar. Jadi aku berjalan-jalan. Dan aku rasa kau pasti juga merasa bosan sama seperti yang aku rasakan.”Suzy berjalan mendekat ketempat tidur Jinyoung dan duduk dikursi yang ada disebelah nya.

“ini sudah jam dua pagi. Kembali lah kekamar mu. Kau akan mendapatkan masalah jika masi berkeliaran jam segini”

“tidak ada yang akan memarahi ku. Kau tenang saja. hmm… kau mau ikut dengan ku ?”

“tidak.” Jawab Jinyoung singkat.

“ayolaah.. aku yakin kau amat tersiksa berada diruangan seperti ini. Aku yakin kau akan menyukai nya”

“tidak.”

“ish.., sekali ini saja. kalo kau tidak suka, aku tidak akan mengganggu mu lagi. Aku janji” Suzy mengacungkan dua jarinya sebagai tanda janji nya

“kau mau apa?” Jinyoung kaget karna Suzy tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

“ikut saja dengan ku” Suzy menarik Jinyoung dari tempat tidurnya untuk mengikuti Suzy dari belakang.

Suzy berjalan melewati lorong rumah sakit diikuti Jinyoung yang hanya diam menurut. Mereka menuju lift yang ada dekat ujung lorong kamar mereka. Suzy menekan panah kearah atas yang ada di samping lift. Saat pintu terbuka, Suzy masuk terlebih dahulu namun Jinyoung masih terdiam di depan pintu lift.

“ayo…” Suzy menarik Jinyoung hingga masuk kedalam lift

“kita mau kemana ?” tanya Jinyoung penasaran

“ ikuti saja aku..” Suzy menekan tombol lantai terakhir dari rumah sakit itu.

Perlahan lift tersebut bergerak naik, tiap lantai dilalu begitu saja. hingga lift berhenti dan pintu terbuka. Suzy keluar dari lift masih dengan Jinyoung yang setia mengikutinya. Mereka menulusuri tiap ruangan di tempat itu. Suzy membuka satu pintu dan mereka sampai di ruang terbuka yang ada di lantai teratas dari gedung rumah sakit ini.

“ahh… segarnya.. berkurung seharian di ruangan sumpek itu serasa sangat lama sekali aku tak merasa kan udara di luar” Suzy membentangkan tangan untuk merasakan angin yang berhembus cukup dingin

Suzy berjalan menuju gazebo yang ada di satu sudut di rooftop rumah sakit. Tempat yang indah untuk ukuran rumah sakit, apalagi letak taman ini sengaja dibuat di atas gedung. Pemandangn gedung-gedung tinggi disekitar rumah sakit yang berjejer pun menambah indah pemandangan dari atap gedung.

“duduk sini..” Suzy mempersilahkan Jinyoung duduk ditempat kosong disampingnya. “bagaimana ? baguskan pemandangannya?”

“hm..” jinyoung bergumam pelan

“kau tidak suka ? ini adalah tempat terindah dirumah sakit ini menurutku.”Suzy menoleh kearah Jinyoung yang duduk disampingnya.

Tapi Jinyoung hanya melihat kearah jejeran lampu yang berasal dari gedung-gedung yang ada di dekat rumah sakit. Dia sangat menikmati itu semua, sejenak dia bisa menenangkan pikirannya yang sudah kacau sejak dia sadar atau bahkan sudah kacau sebelum dia mengalami kecelakaan.Suzy pun sejenak membiarkan Jinyoung tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Setelah cukup lama, Jinyoung dikejutkan dengan tingkah Suzy yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke Jinyoung
“ada apa?” Jinyoung sama sekali tidak menoleh kearah Suzy dan Suzy tetap berada di posisinya. “jauh kan wajahmu !” Jinyoung mendorong wajah Suzy hanya menggunakan jari telunjuk untuk menjauh darinya. “apa yang kau lihat ?”

“mata mu..” jawab Suzy singkat

Kini Jinyoung menoleh kearah Suzy dengan ekspresi bingung dengan jawaban yang didengar nya dari suzy “mata ku ? ada apa dengan mataku ?”

“mata mu bagus. Aku sangat menyukai mata mu. Seperti mata rubah.. sangat indah ” Suzy menggerakkan tangannya seakan ingin menyentuh bulu mata Jinyoung namun dengan sigap Jinyoung mencegahnya. “maaf..” Suzy pun sadar dengan kelancangannya.

“hm..” Jinyoung melepaskan tangan Suzy yang ditahannya

“oya.. kau sudah tau namaku. Tapi aku belum mengetahui nama mu” Suzy mencoba merubah topik pembicaraan karna suasana disekitar mereka mulai muncul ketidaknyamanan.

“Jinyoung.. Jung Jinyoung..”

“owh.. Jinyoung.. senang berkenalan dengan mu. Mulai hari ini kau adalah temanku”

Jinyoung tidak menggubris perkataan Suzy. Dia kembali menikmati pemandangan yang tersaji didepan matanya. dan Suzy dengan diam-diam kembali menatap kearah mata rubah milik Jinyoung yang dia kagumi.

“Jinyoung ! aku datang kembali !” Suzy masuk ke kamar Jinyoung dengan penuh semangat dan ceria.

“bisa kah kau mengetuk pintu sebelum masuk ?”

“ah.. maaf..” Suzy membungkukkan badannya sebagai permintaan maafnya. “Jinyoung, kau ingin ikut dengan ku lagi keatap gedung ? pemandangan sore tidak kalah indah nya dengan pemandangan malam”

“aku sedang malas. Kau pergi saja sendiri” ucap Jinyoung datar tanpa ekspresi.

“ahh.. ayo laah. Aku tau kau ingin pergi. Cepat..” Suzy menarik tangan Jinyoung untuk pergi namun sama sekali tidak ada penolakan dari Jinyoung. Dan itu membuat senyum manis tersimpul dibibir Suzy

Mereka kembali duduk di gazebo dan menikmati pemandangan dari atas gedung. Langit yang perlahan menjadi jingga membuat suasana menjadi berbeda.

“sepertinya kau senang berada disini?” tanya Suzy memecah keheningan diantara mereka.

“iya begitulaah. Tapi sepertinya kau sangat hapal tiap sudut rumah sakit ini. Sudah berapa lama kau disini?” Tanya Jinyoung penasaran.

“hmm… sangat lama bila kau menjalani nya dengan rasa kesepian. Kau teman pertama ku di rumah sakit ini. Makanya aku senang kalau kau juga suka tempat ini. Jinyoung, boleh aku tau penyebab mu hingga sampai ke rumah sakit ini?”

“hanya karna kecelakaan” Jinyoung tersenyum lirih, namun senyuman itu tidak sama sekali di sadari oleh Suzy.

“ah.. pasti karna kau mengendarai motor terlalu lajukan ?”
“sok tau.. aku tertabrak di depan halte”

“itu pasti karna kau tidak hati-hati saat ingin menyebrang, iya kan ?”

“tidak ! itu semua karna pacar dan sahabat yang…” Jinyoung menghentikan perkataannya saat dia sadar kalo dia sudah melewati batas untuk bercerita kepada orang yang baru dia kenal.

“berselingkuh ??” Suzy mencoba melanjutkan pembicaraan Jinyoung yang terputus

“sudahlah jangan membahas itu lagi ! dan kau ! apa penyebabmu ada disini ?”

“aku ??… aku disini karna….” Suzy sempat terdiam untuk mengingat penyebab dia berada diruumah sakit ini. “karna… ntah laah.. aku sudah lupa. Mungkin karna aku sedang sakit ? atau mungkin aku kecelekaan seperti mu ?”

“ckck.. kau lupa kenapa kau bisa ada disini ? aku rasa aku tau apa penyebab mu ada di sini ?”

“apa? Apa karna aku kecelakaan seperti mu ? atau karna aku sakit ?”tanya Suzy beruntun karna penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Jinyoung Kepadanya

“itu karna kau sakit ! sakit pikun ! hahahaha” Jinyoung tertawa kencang saat melihat ekspresi Suzy yang kebingungan.

“aish.. ku pikir kau benar-benar tau !” Suzy memukul lengan Jinyoung yang masi tertawa dengan lelucon yang dibuatnya sendiri.

“aku baru mengenal mu kemarin, mana mungkin aku tau apa penyebab kau ada disini?”

“he he.. iya juga yaah”

“tapi.. kenapa bisa kau berada dikamar ku saat aku sadar?”

“owh itu karna sejak kau pindah dari UGD ke ruangan itu aku sudah menemani mu. Kau saat itu Cuma sendiri. Agar kau tidak kesepian, aku berinisiatif untuk menemankanmu”

“terima kasih” Jinyoung tersenyum tipis ke arah Suzy dan Suzy juga membalas senyumannya.

“masama. Jinyoung, sejak semalam kau adalah teman ku. Apa sejak hari ini aku sudah boleh menjadi teman mu ?”

“iya.”. Jinyoung mengangguk

“hua… makasi.. let’s do pink promise to start our friendship” Suzy mengacungkan jari kelingkingnya ke Jinyoung.

“apa itu perlu ?”

“sudahlaah ikuti saja” Suzy mengaitkan jari kelingking nya ke kelingking Jinyoung dan mempertemukan ibu jari mereka berdua.

“kau sudah berjanji akan menjadi teman ku sejak saat ini !” Suzy tersenyum gembira.

“sudah cukup, ini sudah malam. Saat nya kembali kekamar!” Jinyoung bangkit dari tempat duduknya diikuti Suzy yang berlari kecil berusaha menyamai langkah Jinyoung.

Sudah beberapa hari sejak pertemuan nya dengan Suzy, Jinyoung semakin nyaman bercerita dengan nya di tempat favorit mereka di atap gedung rumah sakit. Namun seharian ini, Jinyoung sama sekali tidak melihat Suzy. Karna biasanya Suzy akan muncul dengan sendirinya. Jinyoung teringat kembali saat di hari pertama mereka berkenalan. Suzy mengatakan kalau kamar nya berada di no 105 hanya berjarak dua ruangan dari kamarnya.

Jinyoung yang merasa cukup bosan, menuju keluar kamarnya. Di berjalan perlahan untuk mencari kamar bernomor 105 itu. Tepat di samping pintu terpasang papan bernomorkan 105 dengan nama pasien Bae Suzy. Jinyoung ingin langsung membuka pintu kamar itu seperti yang biasa Suzy lakukan di kamarnya, tapi timbul sedikit keraguan bahkan Jinyoung ingin mengurungkan niatnya untuk menghampiri Suzy di kamarnya. Jinyoung sudah memegang ganggang pintu untuk dia buka, namun tepukan di pundaknya cukup membuat Jinyoung kaget.

“sedang apa kau di depan kamar ku ?”

“hah ??” Jinyoung menjadi sedikit salah tingkah yang kepergok sedang berada di depan ruangan Suzy

“aku tanya sedang apa kau di depan kamarku ?”

“aku hanya… hanya… merasa sedikit bosan” Jinyoung menggaruk-garuk kepalanya dan makin menempel ke tembok. “kau dari mana saja ?”

“aku sedang bersantai duduk didepan tempat jaga suster. Kenapa ?”

“hah?? Tidak ada.. kalo gitu aku kembali kekamarku dulu yah” Jinyoung pergi melewati Suzy yang berdiri di depannya

“tunggu..” Suzy menghentikan perjalanan Jinyoung menuju kamarnya

“iya ? ada apa ?” Jinyoung kembali berbalik menghadap Suzy

“mm… bisa kita bertemu di atap gedung nanti malam ?”

“tentu.. aku akan menunggu mu nanti malam di atap gedung. Sampai jumpa”

“iya..” Suzy masuk ke kamarnya dan Jinyoung juga sudah kembali ke kamarnya.

Langit sudah gelap, Jinyoung sudah bersedia duduk di gazebo tempat dia sering menghabiskan waktu bersama Suzy beberapa hari belakangan ini. Dia hanya tinggal menunggu Suzy datang menghampirinya.

“kau sudah menunggu lama ?” Suzy kini sudah berdiri dibelakang Jinyoung yang sedang menunggunya.

“tidak.. duduk sini” Jinyoung mempersilahkan Suzy duduk di sebelahnya. “seharian ini, kau kemana saja ?”

“aku ada di kamar ku. Kenapa ? kau merindukan ku ? hahaha”

“hah ? tentu tidak ?” Jinyoung mencoba untuk menyangkalnya

“yakin ?”Suzy melirik kearah jinyoung seakan menuntut jawaban yang berbeda dari Jinyoung

“iya. Aku tidak merindukanmu” jawab Jinyoung mantap

“hu uh.. kecewa!” Suzy memalingkan wajahnya dari Jinyoung

“kau marah ?”

“tidak !”

“iya.. kau marah ?” Jinyoung mencolek dagu Suzy yang tersipu malu

“ish.. hari ini kau sangat menyebalkan” Suzy sedikit memajukan bibirnya untuk menunjukkan rasa kesalnya terhadap Jinyoung

“kenapa ? aku tidak membuat masalah.”

“ntah laah. Aku hanya ingin marah. Hufh…. kenapa bintang malam ini gaak muncul sih ?” Suzy menangkat kepalanya untuk melihat langit yang malam ini benar-benar hanya berwarna hitam tanpa adanya bintang yang bertaburan untuk memeperindahnya.

“aku rasa karna mereka takut kau marahi juga. Hahaha”

“yakkk ! Jinyoung!” Suzy memukul pelang lengan Jinyoung yang masih saja tertawa.

“iya.. iya..mungkin besok akan hujan” Jinyoung melihat ke langit yang benar-benar gelap karna tak ada satu pun bintang yang bersinar malam itu.

“aku ingin kembali kekamar saja. mood ku benar-benar hancur hari ini”

“baiklaah sepertinya kau memang dalam kondisi yang tidak baik” Jinyoung mengiyakan permintaan Suzy dan mereka kembali kekamar.

“Jinyoung !” seperti biasa Suzy masuk kekamar Jinyoung tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Namun kamar itu kosong tak berpenghuni.

Suzy dengan segera menuju atap gedung untuk mencari Jinyoung. Dan benar, Jinyoung sudah duduk sendirian di dalam gazebo.
“yakk ! kenapa kau kesini hanya sendiri ? kau lupa siapa yang memberi tahu mu tempat ini ??” Suzy berlari menuju gazebo dan duduk di samping Jinyoung yang sedang asik menikmati pemandangan kota.

“aku sudah menantimu sejak tadi, tapi kau tak datang. Jadi kuputuskan untuk pergi sendiri kesini”

“ahh…sudah berapa lama sejak pertama kali kita kesini ?”

“mm…mungkin sekitar dua minggu ? kenapa???”

“waktu sangat cepat berlalu. Apa kau senang berteman dengan ku selama ini ?”

“iya. Kau teman yang sangat menyenangkan ” Jinyoung merangkul Suzy dan meletakkan kepala Suzy d bahunya

“Jinyoung?”

“hm ?” Jinyoung menolehkan wajahnya ke Suzy yang masi bersender d bahunya

“penyebab kcelakaan mu itu karna kau melihat pacar dan sahabatmu selingkuh. Apa yang akan kau lakukan jika bertemu kembali dengan mereka?”

“kenapa kau menanyakan itu ?”

“aku hanya ingin tau ?”

Jinyoung menegakkan tubuh Suzy dan memutar tubuh Suzy agar menghadap ke arahnya. “hm.. apa yang akan aku lakukan ?” Jinyoung masi terlihat berpikir. “mungkin aku akan menghajar mereka”

“hah?? Kau serius ???”

“tentu saja tidak…” Jinyoung mengacak-acak rambut Suzy dan membuat Suzy sedikit kesal. “aku tidak akan mengganggu hubungan mereka. Mungkin Yoohee akan lebih bahagia jika bersama Baro. Aku takkan memaksa Yoohee terus bersama ku. Dan lagi aku sudah baik-baik saja sekarang. Bahkan aku jauh lebih bahagia sekarang.”

“kenapa????” tanya Suzy antusias

“itu rahasia …. hahahaha” Jinyoung kembali mengacak-acak rambut Suzy dan kali ini di balas dengan satu pukulan Suzy di lengan Jinyoung

“liat itu” Suzy menujuk kearah bintang yang hanya bersinar sendiri malam ini. “bintang…”

“hah ?? bintang ??” tanya Jinyoung heran dan dia melihat kearah yang di tunjuk Suzy

“seandainya aku bisa memetik bintang itu..”

“kalau kau bisa memetiknya, apa yang akan kau lakukan ?”

“aku akan menyimpannya agar aku tidak akan sekali pun takut akan kehilangannya.” Suzy memutar tubuhnya kembali menghadap Jinyoung. “Jinyoung…??”

“iya ?” jinyoung mengernyitkan dahinya

“apa kau bisa menunggu ku ?”

“menunggu mu ? kau akan pergi kemana ? dan berapa lama ?” Jinyoung sedikit bingung dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut manis Suzy.

“aku tidak kemana-mana. Aku masi disini. Tapi kau harus menunggu ku. Mungkin akan sedikit memakan waktu mu. Namun jika kau merasa tidak perlu menunggu ku, tidak apa-apa. Aku akan mengerti”

“hah? Aku tidak mengerti maksud mu tapi baik.. aku akan menunggu mu! Aku berjanji” Jinyoung mengacungkan jari kelingkingnya untuk melakukan pink promise dengan Suzy

“terima kasih..” Suzy mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Jinyoung

Mereka berdua tenggelam dengan pembicaraan mereka. Tidak sadar waktu berjalan sudah cukup lama dari awal mereka bertemu di atap gedung. Suzy yang menyadari hal itu segera bangkit dari duduknya dan bergegas akan pergi.

“kau mau kemana ?” Jinyoung menahannya untuk tidak pergi

Suzy berbalik dan tersenyum namun senyum itu tidak terlihat seperti biasanya.“bukankah kau sudah berjanji untuk menunggu ku ? ku harap kau akan menepatinya”

“tapi kau akan kemana ??”
“kau akan mengerti nanti. Dan ingat ada banyak hal yang tidak dapat dijelaskan dalam hidup ini, Jinyoung” Suzy melepaskan tangan Jinyoung dan pergi meninggalkan nya sendiri.

Suzy berjalan menuju pintu keluar dan mulai menghilang dari sebalik pintu. Jinyoung yang tinggal sendiri di gazebo mulai merasa sedikit pusing di kepalanya. Perlahan dia merasa disekitarnya menjadi gelap hingga dia pun mulai tidak sadarkan diri.

Dengan perlahan Jinyoung membuka matanya, dia sedikit merasa kan sakit di kepalanya, ketika dia meraba kepalanya dia merasakan ada perban menempel dekat dengan pelipis kirinya. Dan tangan kanan nya sudah terpasang infus. Di sebelah tempat tidurnya terdapat Hyungnya yang tertidur dengan membenamkan kepalanya disamping Jinyoung.

“hyung.. il woo hyung..” panggil Jinyoung lirih

Perlahan Il Woo sadar dari tidur nya dan meneggakkan posisi duduknya. Dia terlihat kaget bercampur senang saat meilhat Jinyoung yang sudah sadar. “akhirnya kau sadar juga! Sudah terlalu lama kau tak sadarkan diri ! kau benar-benar membuat ku khawatir. apa masih ada bagian badanmu yang sakit ??” Jinyoung menjawab kekhawatiran kakaknya hanya dengan gelengan pelan.

“syukurlaah… sejak kecelakaan mu dua minggu lalu kau tidak sadar kan diri. Kau benar-benar membuat ku hampir gila!”

“dua minggu yang lalu?” tanya Jinyoung bingung karna yang dia tau sejak dua minggu lalu dia sudah berada di rumah sakit ini dan baik-baik saja, bahkan dia tidak memakai perban atau pun infus di tangannya

“iya… kau tunggu di sini.. aku akan memanggilkan dokter” Il Woo bergegas keluar untuk mencari dokter

Jinyoung yang masih terbaring di kasurnya sangat bingung dengan apa yang dia alami. Yang dia tau, dua minggu lalu dia sudah ada di kamar ini dan bahkan dia baik-baik saja. dia masih menikmati pemandangan yang indah dari atap gedung beberapa waktu yang lalu.

Tak lama, Il Woo masuk diikuti dengan seorang dokter beserta seorang perawat dibelakangnya. Dokter itu pun memeriksa Jinyoung untuk memastikan keadaannya.

“bagaimana keadaan adik saya, dokter Lee ??”

“dia baik-baik saja.. tapi dia akan sedikit kesulitan menggerakkan badannya di awal. Otot-otot nya masih kaku karna sudah dua minggu ini dia hanya terbaring. Semua akan membaik segera” dokter Lee Junki yang selama ini menangani Jinyoung menjelaskan kondisi Jinyoung pada Il Woo yang terlihat cemas dengan keadaan adiknya.

“terima kasih..” Il Woo membungkukkan badannya dan merasa lebih lega sekarang

Dokter Lee Junki diikuti suster meninggalkan ruangan Jinyoung setelah memastikan semua nya baik-baik saja.

Jinyoung baru saja menyelesaikan makan siangnya dan meminum obat yang rutin dia minum belakangan ini. Sedangkan Il Woo masih setia menemaninya di rumah sakit. “hyung..” panggil Jinyoung ke Il Woo yang sibuk dengan perkerjaannya yang di bawa kerumah sakit sejak Jinyoung dirawat.

“ne..” Il Woo melirik ke Jinyoung sebentar lalu kembali fokus kepada laptopnya.

“kau bilang, kau setiap hari ada disini kan menemaiku”

“ne.. kenapa?” Il Woo menegakkan duduknya dan menunggu jawaban dari Jinyoung

“apa ada wanita yang sering datang berkunjung ke kamarku saat aku tidak sadar?”

Il Woo hanya mengernyitkan dahinya untuk berpikir sejenak. “tidak ada..”. Jinyoung hanya mengangguk pelan mendengarkan jawaban dari Il woo. “ah! Ada yang ingin kutanyakan pada mu”

“apa hyung ?”

“apa ada masalah dengan hubunganmu dan Yoohee? Kenapa dia tidak menjengukmu sama sekali.. padahal aku sudah mengirimkannya pesan”

“sudahlah hyung.. lupakan.. aku ingin kembali beristirahat” Jinyoung kembali tidur dan memunggungi hyungnya. Tapi dia tidak benar-benar tertidur. Mata menatap kosong keluar jendela ruangannya.

Jinyoung yang merasa sumpek berada di kamarnya bergegas ingin k atap gedung. Ketika kakinya melangkah keluar ruangan, dia tidak menuju lift melainkan belok kearah kanan dari ruangannya. Kaki nya terhenti tepat di kamar bernomor 105 dengan nama pasien Bae Suzy. Dia terdiam melihat tubuh Suzy yang terbaring dengan alat bantu pernafasan di atas tempat tidurnya melalui kaca petak yang ada di pintu.

Pintu tiba-tiba di buka oleh suster Han hyo joo yang juga selama ini membantu merawatnya. “Jung Jinyoung ?? kenapa kau ada di sini ??” suster Han sedikit bingung dengan keberadaan Jinyoung dikamar Suzy.

“suster, sejak kapan dia tidak sadarkan diri ??” tanya Jinyoung dengan suara gugup

“sejak dia masuk di rumah sakit ini karna kecelakaan itu Sekitar 1,5 bulan yang lalu. Kenapa ?? Apa kau kenal dengan pasien Bae Suzy ??”

“mungkin iya..” jawab Jinyoung yang matanya masih melihat Suzy yang terbaring lemah.

“mungkin ??” suster Han mengernyitkan dahi nya

“ada beberapa hal yang tidak dapat di jelaskan dalam hidup ini, suster Han” Suster Han Hyo joo semakin bingung dengan penjelasan yang Jinyoung berikan. “tapi sus, dimana keluarga nya ?”

“keluarganya hanya mengunjunginya tiap hari minggu. Itu pun hanya pada siang hingga sore hari. itu karna orang tua nya sibuk dengan perkerjaan mereka”

“pantas dia selalu merasa kesepian…. sus, boleh aku menemaninya disini ?”

“tapi..” belum sempat suster Han melanjutkan kalimatnya, Jinyoung sudah kembali memotongnya.

“aku hanya menemani nya, karna aku sudah berjanji pada nya untuk menunggu hingga dia kembali”

“baiklaah.. tapi kau juga masih harus banyak istirahat. Jangan paksakan dirimu..”

“baik suster han, aku mengerti..”

Suster Han Hyo joo meninggalkan Jinyoung yang duduk di samping Suzy sambil menggenggam tangan Suzy yang masih terbaring. Ditatapnya wajah Suzy yang terbaring lemah, tidak ada senyum ceria yang selalu diingat Jinyoung.

“Jinyoung, dokter Lee bilang kalo kau sudah boleh pulang hari ini. Cepat ganti baju, hyung akan membereskan barang-barang mu” Il Woo menyerahkan sepasang pakaian ke adiknya yang duduk di atas tempat tidur.

Jinyoung yang di berikan baju, bergegas masuk kedalam toilet untuk segera menukar pakaian rumah sakit dengan baju yang sudah di siapkan Hyungnya. Tak berapa lama jinyoung keluar dan meletakkan pakaian pasien nya di atas tempat tidur.

“Hyung, tunggu sebentar disini..” Jinyoung dengan tergesa-gesa keluar dan berpas-pasan dengan suster Han Hyo joo di depan pintu

“kau mau kemana ??” teriak Il Woo dari dalam ruangan

“mungkin dia ingin bertemu dengan Bae Suzy..” suster Han menyerahkan beberapa dokumen hasil check up terakhir Jinyoung kepada Il Woo.

“Bae Suzy?? siapa dia ??” tanya Il Woo bingung

“dia pasien di rumah sakit ini, dan sejak beberapa hari yang lalu Jung Jinyoung selalu menemani nya. Dia bilang itu temannya”

“temannya ? aku tidak tau dia punya teman bernama Bae Suzy??”

Di kamar Suzy, Jinyoung sudah duduk dan menggenganm tangan Suzy. Jinyoung terus saja memandangi wajah Suzy yang tidak berekspresi.

“aku akan keluar dari rumah sakit hari ini. Tapi kau tak perlu khawatir, aku akan terus mengunjungi mu setiap hari. Aku janji.” Jinyoung meletakkan punggung tangan Suzy di pipinya lalu mengusapnya lembut.

Sejak hari Jinyoung keluar dari rumah sakit, dia tidak putus-putus mengunjungi Suzy yang masih juga belum sadarkan diri. Jinyoung biasanya akan membawakan 1 tangkai bunga mawar putih untuk menyegarkankan suasana ruangan Suzy. Setiap hari juga dia membacakan Suzy buku yang dibawa dari rumahnya. Bahkan suster Han Hyo joo sudah sangat hafal dengan yang dilakukan Jinyoung.

Namun hari itu, Jinyoung sedikit berbeda. Dia tidak hanya membawa 1 tangkai mawar putih, tapi empat. Dan dia meletakkannya di vas yang ada di dekat jendela kamar Suzy.

“Suzy.. hari ini aku membawakan empat tangkai bunga… karna tiga hari kedepan aku tidak bisa mengunjungi mu. hyung ku akan menikah dan aku akan sangat sibuk karna itu. Maafkan aku yaah ?” Jinyoung terus berbicara meski tidak mendapatkan respon apa pun dari Suzy.

Jinyoung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Lalu dia mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang dari dalamnya.

“terakhir saat kita bertemu d atap gedung…. ah. .. maksudku ketika terakhir kau hadir dalam mimpiku ketika aku tak sadarkan diri. Kau pernah berkata kalau kau ingin menyimpan bintang agar tak pernah takut kehilangannya. Lihat laah sekarang, aku membawakan bintang untuk mu. Kau tidak perlu lagi takut kehilangan bintang mu.” Jinyoung memasangkan kalung berliontin bintang itu kepada Suzy dan mencium tangannya.

Setelah tiga hari Jinyoung tidak mengunjungi Suzy di rumah sakit, Jinyoung membawa 1 buket bunga mawar putih untuk Suzy. Jinyoung sudah tidak sabar ingin kembali menyapa Suzy dan memberikan buket bunga itu kepadanya. Namun ketika dia masuk dalam kamar Suzy, dia tidak menemukannya di atas tempat tidurnya. Jinyoung yang panik bergegas berlari menuju tempat suster jaga.

“suster han.. Suzy dimana???”

“kau kemana saja selama tiga hari ini. Akhirnya dia sadar dari koma nya, Jinyoung” jelas suster Han hyo joo bersemangat

“benarkah ?? sekarang dia dimana ??”Jinyoung yang mendengar nya seakan tidak percaya penantiannya akan berakhir hari ini

“iya.. tidak lama setelah kau pulang menjenguknya. Dia sadarkan diri. Dia baru saja selesai terapi, biasanya dia akan duduk di taman di atap gedung”

“terima kasih suster han, aku akan menghampirinya sekarang”

Jinyoung yang mendengar berita baik itu terus bergegas menuju lift, dia dengan tidak sabar terus menekan tombol lift hingga pintu terbuka. Ketika lift sampai di tingkat terakhir gedung, Jinyoung berlari menuju keluar taman. Dia melihat seorang wanita yang sedang duduk diatas kursi roda sambil menikmati pemandangan kota dari sana. Jinyoung berjalan perlahan mendekat agar tidak mengejutkannya.

“Suzy….” sapa Jinyoung pelan

“iya..” Suzy menoleh kearah Jinyoung namun dia melihat Jinyoung layaknya orang asing

“bagaimana keadaan mu ?? kau baik-baik saja ??”

“iya” jawab Suzy datar dan singkat

“kau kenapa ?? apa kau tidak mengenalku ??”

Suzy hanya diam dan menatap lurus ke mata Jinyoung.

“aahh… iya… sangat mungkin kalo kau tidak mengenalku. Aku mengerti…aku tidak akan mengganggu waktu bersantai mu” Jinyoung berbalik dan berniat meninggalkan Suzy sendiri

Namun baru satu langkah Jinyoung berjalan, Suzy sudah menahannya dengan memegang pergelangan tangan Jinyoung. Jinyoung spontan menghentikan langkahnya dan kembali menghadap Suzy yang mendongak ke arahnya.

“kau mau kemana ??? aku memang tidak mengenal mu. Tapi…tapi….kenapa aku merasa kalau.. aku sudah mengenal mu sejak lama. Dan mata itu…” Suzy menunjuk kearah wajah Jinyoung

Jinyoung yang berdiri perlahan berlutut didepan Suzy hingga kini matanya sejajar dengan mata Suzy.
“kau menyukai mataku ??”

“hm..” suzy mengangguk . “ mata mu indah seperti mata rubah dan aku merasa sangat tidak asing dengan mata itu”

“iya,kau pernah mengatakannya itu sebelumnya… kau tidak perlu bingung.. memang ada hal yang tidak bisa kita jelaskan di hidup ini. Tapi yang perlu kau tahu kau adalah temanku, kau dulu yang mengatakan kalau kita teman …”

“benarkah aku pernah mengatakan itu ?? dan kalung ini ..” Suzy menunjukkan kalung bintang yang masih melingkar di lehernya. “apa ini dari mu ??”
“iya.. itu dari ku.. kau sangat suka bintang dan tidak pernah mau kehilangannya kan ?? makanya aku memberikan mu kalung itu agar kau selalu di temani bintang kemana pun dan kapan pun..”

“terima kasih… apa kau Jung Jinyoung ?? Pria yang di ceritakan suster Han hyo joo yang selama ini memberiku bunga mawar putih dan membacakan buku untukku ??”

“iya… aku Jinyoung.. Jung Jinyoung”

“Jinyoung ?? aku seperti tidak asing denganmu tapi … aku sama sekali tidak ingat apaun tentang mu”

“anggap saja kau pernah bertemu dengan ku dalam mimpi mu. Dan sekarang orang yang ada dalam mimpi mu masuk kedalam dunia nyata mu. Bagaimana ??”

“sedikit membingungkan tapi baiklaah…”Suzy tersenyum

“aku benar-benar merindukan senyumanmu…..” ucap Jinyoung pelan

“hah??”

“ah.. tidak…” Jinyoung menjadi sedikit panik. “ok.. kita mulai semua nya dari awal” Jinyoung kini kembali berdiri. “Suzy??”

“iya ??” Suzy kini harus mendongak kearah Jinyoung

“apa mulai sekarang aku sudah boleh menjadi teman baik mu ??”

“mmm…. iya.. baiklaah.” Suzy tersenyum

“makasi Suzy.. let’s do pink promise to start our frienship” Jinyoung mengacungkan jari kelingkingnya kepada Suzy

“apa itu perlu??”

“sudah ikuti saja…” Jinyoung mengaitkan jari kelingking nya ke kelingking Suzy dan mempertemukan ibu jari mereka berdua. “kau sudah berjanji akan menjadi teman ku sejak saat ini !”

“aku seperti pernah mengalaminya sebelum ini ?? Suzy tampak bingung

“mungkin… saat dalam mimpi mu kita pernah melakukan ini. Ha haha”

“mungkin..?? hahaha.. ada-ada saja..” Suzy mengernyitkan dahinya lalu membalas senyum dari Jinyoung

“udara di sini mulai dingin, ayo ku antar kau ke ruangan mu”

“hm..” Suzy mengangguk. Jinyoung mendorong kursi roda Suzy menuju kamarnya. Sejak saat itu Jinyoung kembali rutin menjenguk Suzy di rumah sakit bahkan saat Suzy sudah keluar d rumah sakit itu.

Yang ada di benak Jinyoung, semua kenangan yang dia alami sebelumnya dengan Suzy mungkin memang sebuah mimpi saat dia tertidur dalam waktu yang cukup lama. Mimpi yang terasa sangat nyata baginya untuk sebuah mimpi. Tapi Setidaknya dia sudah menepati janji nya untuk menunggu Suzy kembali seperti yang dia ucapkan d “mimpi” itu. kini, meski Suzy tidak sepenuhnya mengenal dia, tapi Jinyoung yakin Suzy masih mengingat samar-samar tentang nya dalam pikiran Suzy. Dan Jinyoung akan berjanji akan membuat semua nya lebih baik untuk hubungan nya dan Suzy.

 THE END ^^

 

4 thoughts on “{FANFICTION} The Hospital’s Rooftop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s