{FF} “Jinyoung vs Baro SEASON II: Baby I’m Sorry” (chapter 2)

Rated: T

Genre: Romance

Cast: Jinyoung, Baro

Author: Peny (@jindeullie)

***

Annyeong readers ^^ yeah…akhirnya chapter kedua dari Jinyoung vs Baro season 2 sudah keluar, heheee…mian yah…lamaaaaa banget bikinnya.

Okay deh, langsung aja dibaca, yang belum sempet baca bisa open part 1 di >>> https://jinyoungindoclub.wordpress.com/2014/01/03/ff-jinyoung-vs-baro-season-ii-baby-im-sorry-chapter-1/

316272_280055835339009_100000037853660_1146866_278316496_n1

***

CHAPTER 2

Langit sore itu sepertinya sangat damai, warna merahnya di ufuk barat membuat hati Minji sedikit nyaman. Ia sekarang sedang duduk di taman belakang kampusnya. Sebuah tempat yang sering dikunjunginya dengan Jinyoung dulu. Hmm…Jinyoung… Jung Jinyoung… Kenapa pemilik nama itu memiliki wajah yang begitu indah dan sangat mengikat dirinya?

Minji mengambil MP4-nya dan memutar lagu khusus yang dibuat oleh Jinyoung untuknya. Suaranya sangat bulat dan lembut. “Apa yang sedang dilakukannya sekarang?”

Minji mengingat kembali saat terakhir dia bersama Jinyoung di taman itu. Saat itu dia sedang menangis dan berusaha mempertahankan Jinyoung tetap di Korea. Dia mengingat di sinilah Jinyoung berani mengecup bibirnya saat dia sadar. “Apa dia sedang mengingatku sekarang?”

Minji menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Jinyoung memberikannya saat mereka sudah menjalani hubungan selama satu bulan. Jinyoung bilang itu adalah cincin malaikat yang dikirim untuknya dan Minji. Haha, dia manis sekali…

“Haaah…aku sudah lupa.. Ini sudah bulan ke berapa ya?” Ia menghela napas dan menghapus air mata yang sudah mengalir dari tadi. Hampir enam bulan, Minji kehilangan Jinyoung. Dia tidak tahu di mana Jinyoung dan teman-temannya berada sekarang. Dia terlalu kecewa terhadap Jinyoung, karena janjinya untuk pulang selama dua bulan ternyata bohong. Dia bahkan tidak bisa menghubungi Jinyoung.

Minji beranjak dari duduknya dan pergi menuju jalanan yang penuh dengan pohon sakura. Sudah yang keseratus kalinya (mungkin) Minji mengunjungi jalanan ini. Dulu…saat pohon ini menebarkan banyak kelopak bunganya, Minji merasa menjadi seorang gadis yang paling bahagia di dunia. Jinyoung menyatakan cintanya dan memeluk Minji, seolah ingin menyatakan pula bahwa Minji adalah miliknya. Tapi sekarang…pohon itu hanya tinggal batangnya saja, kering tanpa bunga, sama seperti dirinya saat ini.

“AAAAaaarrgggghhh!!! JUNG JINYOUUUUUUNGG!!!! JINYOUUUUUNG!!” Minji berteriak sekuat tenaga bersama tangisannya. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang lewat di sampingnya, melirik dan menggerutu sebal ke arahnya. “Jinyouuuung… Jinyouuuuung…”

SET!

Seseorang tiba-tiba menutup mata Minji dari belakang. Minji terdiam dan waspada. Siapa orang yang menutup matanya ini? Apakah dia penjahit? /(-__-)\ Apakah seseorang tersinggung karena dia menyebutkan nama artis terkenal di Korea? Apakah orang ini mau membuangnya ke laut? Apakah dia penciluk? \(-___-“\)

Eh? Ini…harum ini?? Bukannya ini milik… Hembusan napas ini juga… Apakah dia…

Minji menurunkan tangan orang asing itu dari matanya dan melihat sebuah cincin yang sama bentuknya dengan miliknya, melingkar di tangan orang itu. Minji berputar dan terkejut melihat seorang cowok yang berdiri di hadapannya…tersenyum dan menangis. Jung…

“Jinyouuung…?”

“Aku pulang :’),” Jinyoung tersenyum sambil memegang kedua pipi Minji. “Hei, kau rindu padaku tidak??”

Saking terkejut dan tidak percayanya, Minji hanya melebarkan matanya tanpa mengucapkan satu katapun untuk Jinyoung. Sulit baginya mempercayai hal ini. Pasti ini adalah mimpi, khalayannya. Ya, benar! Ini pasti khayalannya! Dia terlalu merindukan Jinyoung, sampai-sampai muncul halusinasi bahwa Jinyoung di hadapannya kini. Ayo sadarkan dirimu, Ee Minji!!! Bangun!!

“Hei! Katakan sesuatu, dong. Kan aku sudah pulang,” lanjut Jinyoung. “Minji?? Masa kau lupa padaku?? Duh, gawat…jangan-jangan dia hilang ingatan -__-.”

Jinyoung memeluk Minji dan mengucapkannya sekali lagi, “Aku sudah pulang, Minji. Saranghaeee. Aku bukan halusinasi, kau tahu?”

“A..apa?” Minji melepaskan pelukan Jinyoung dan memegang pipi cowok itu. Bukan…Minji tidak bermimpi…Jinyoung ini nyata. Benarkah??? Benarkah Jinyoung sudah pulang? “Yaaaaaa!!” Minji menekap mulutnya, berusaha menahan tangisnya tapi gagal. Ia menangis dengan keras sambil memukul dada Jinyoung pelan. “Jahat!! Bodoh…!”

“Sakit Minjiiiii…hentikan,” Jinyoung menarik kedua tangan Minji, lalu menggenggamnya. “Ayo, kuajak kau ke suatu tempat, di sini banyak yang melihat, jika aku ketahuan fans, kau dalam bahaya ^^. Lets go!”

Jinyoung mengajak Minji bergabung dengan anggota B1A4 lain. Minji sendiri tidak tahu tempat apa itu, sebuah rumah yang sangat besar dan luas.

“Oh?? Minji! Kau bertemu dengannya di mana, Jinyoung?” CNU menyapa Minji dengan antusias, membuat Baro terkejut dan segera menengok ke arah Minji.

“Kami bertemu di taman. Oppa apa kabar? Hai semua, bagaimana kabar kalian?”

Tatapan Minji terhenti di Baro. Apa yang harus Baro katakan untuk noona satu ini?? Kenapa hyung membawanya kemari??

“Aku dari dulu curiga.”

“Kenapa?” tanya Minji saat Jinyoung meliriknya.

“Kenapa CNU kau panggil oppa? Aku tidak kau panggil oppa? Aku  juga lebih tua darimu.”

“Berisik!”

“Hyung, bawa noona jalan-jalan di belakang saja sana, biar kalian lebih romantis xD,” goda Gongchan.

“Auuuuuuwwww!” sahut Sandeul.

“Ayo ^^.” Jinyoung mengajak Minji menuju kebun di belakang rumah itu. “Ini rumah manajer kami, besar sekali, ya? Manajer noona baik sekali, membolehkanku menjemputmu dan bermesraan di sini >,<!”

“Apa?! Bermesraan??! Siapa yang mau bermesraan denganmu?!! Cih!! Aku marah padamu! Jangan ajak aku bicara, paham?!!”

Jinyoung tersenyum dan senang melihat Minji marah. “Aku merindukan amarahmu ^^.”

Hhhhft… Kenapa Jinyoung selalu saja mampu meluputkan amarah Minji? Yah…apapun itu, Minji senang Jinyoung sudah pulang sekarang. Tapi…dia seharusnya menjelaskan semuanya! Kenapa dia baru pulang sekarang?! Jinyoung bilang dua bulan?! Ini sudah enam bulan!!

“Dasar pembohong!!! Aku benci denganmu!!”

“Maaf…aku tahu kau pasti marah sekali padaku… Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan. Aku tidak bisa mengabarimu…rasanya di sana seperti seorang training, aku tidak boleh memegang ponselku. Aku merindukanmu setiap malam…”

Jinyoung memainkan jari-jemari Minji di pangkuannya. Rasanya seperti di surga, duduk di samping gadis yang sangat dicintainya, menyentuh kulitnya yang lembut, dan menatap matanya yang indah. Jinyoung ingin seperti ini terus. Dia ingin di samping Minji terus dan tak ingin pergi lagi.

“Apa kau tidak bosan bermain dengan jariku?” tanya Minji setelah sepuluh menit Jinyoung memainkan jemari Minji. Jinyoung menatap Minji sambil tersenyum hangat, lalu mengecup tangan Minji.

“I miss you so much, baby…” Jinyoung mendekatkan kepalanya ke arah Minji. Dia memejamkan matanya bersiap mencium Minji. Tapi, saat bibir keduanya baru menempel, sebuah suara deham yang keras membuat keduanya terlonjak dan buru-buru menjauh.

“Ahem!!!” Sandeul dan Gongchan berdeham sambil menunjuk-nunjuk Jinyoung dengan muka nakal.

Gawat! Semua member B1A4 ada di sana dan melihat aksi ciuman Jinyoung. Minji menelan ludah dan wajahnya terlihat memerah. Waduh…mereka melihat bibirnya dan bibir Jinyoung bersentuhan tadi. Huaa….bagaimana iniiii??!! Jinyoung bodoh!!!

“Aiiiihhh…chuuuuu,” celetuk Sandeul.

“Yaaahhh…kenapa ciumannya sudahan?? Aduuuh, jantungku berdegup kencang xD,” Gongchan meremas boneka pororonya dengan gemas.

“Hahahaa… Ayo kita pulang, noona bilang kita harus kembali ke dorm.”

Jinyoung menatap Minji, wajahnya sama-sama memerah. Dasar! Apa yang harus Minji lakukan sekarang?!! Aaahh!!! Malu!! >,<

Entah tadi itu benar atau tidak…Minji kurang yakin, tapi…sepertinya Baro terlihat sangat aneh. Apa dia melihatnya juga? Apa Baro melihat Jinyoung menciumnya tadi? Bagaimana ini? Apakah Baro marah? Uhmm?? Tunggu…kenapa Baro harus marah? Eh, bukan..kenapa Minji harus mengkhawatirkannya? Kenapa?

***

Minji berpapasan dengan Baro dalam perjalanan pulangnya. Uhm..mungkin akan terkesan buruk jika Minji tidak menyapa Baro, jadi dia memutuskan untuk menyapa saja. “Baro? Kau habis darimana? Eng?!” Ketika sudah dekat dengan Baro, Minji tidak menyadari bahwa ada seorang gadis manis dan sedikit mewah penampilannya, berdiri di samping Baro sambil membawa saputangan.

“Oh? Noona? Aku baru saja pulang, ini mau ke studio,” jawab Baro agak canggung. Aduh, apa karena Minji menyapanya di saat yang kurang tepat yah? “Mau bertemu hyung ya? Ayo jalan.”

“Eh tapi, dia…,” kalimat Minji terputus karena Baro segera menariknya pergi, meninggalkan gadis tersebut. “Kenapa?”

“Ah, hanya seorang fans. Noona, kita makan siang dulu yah, aku lapar ^^.”

“Tapi, sepertinya kau mengenal dia? Kalaupun fans, kenapa meninggalkannya begitu saja? Kan tidak baik.”

“Aaah, nanti saja kuceritakan, temani aku makan siang dulu yah ^^.”

“Haissh kau ini. Nanti ketika kita makan, kau pasti lupa dan bilang padaku, ‘ah, kejadian yang mana? Gadis yang mana sih? Besok sajalah kalau aku ingat’. Dasar Baro!”

Baro tersenyum dan memilih sebuah kedai ramen yang tidak begitu banyak pengunjung. Minji tidak memesan makanan, meski Baro memaksanya untuk memesan, tapi dia hanya memesan teh untuk menghangatkan tubuhnya.

“Jadi…siapa gadis tadi??”

“Aduuuh, beri aku waktu setelah selesai makan yah, nanti pasti kujelaskan.”

“Tidak mau, jelaskan sekarang.”

“Aigoooo, kenapa noona sangat penasaraaaan?? Apakah cemburu?? Hahaha.”

“Kau ini! Kau tadi keterlaluan, Baro. Tidak boleh meninggalkan seorang gadis di jalan seperti tadi. Dia kan temanmu?!”

“Aku tidak suka padanya.”

“Meski tidak suka, jangan seperti itu. Paling tidak, kau mengantar dia pulang atau bagaimana.”

“Aaaah, perutku jadi mulas, noona kita bicara hal lain saja ya ^^.”

Minji menggelengkan kepala dan menghela napas melihat Baro. Terhadap orang yang disukainya, Baro akan menjadi sangat manis dan perhatian, tapi bukan berarti terhadap orang yang tidak disukai, Baro akan bersikap kejam. Minji sedikit memahami Baro, karena Jinyoung sempat menceritakan bagaimana sifat rapper imut satu ini. Mungkin gadis tadi menyukai Baro, tetapi supaya tidak menyakiti perasaan si gadis, Baro sengaja cuek dan tidak peduli.

“Justru itu menurutku adalah sisi perhatian darimu,” gerutu Minji.

“Hah? Apa?” tanya Baro sambil menyeruput kuah ramennya.

“Tidak, cepat habiskan, aku harus segera bertemu Jinyoung ^^.”

Minji menunggu Jinyoung yang sedang berlatih dance bersama dengan membernya. Dia duduk bersandar di luar ruang latihan sambil mendengarkan MP3 milik Jinyoung. Wuah, suara Jinyoung sangat lembut >_< Minji sangat menyukainya.

“Aegi!” Jinyoung mengejutkan Minji dengan berbisik di samping telinganya.

“Oh?!! Yaaa! Kau sudah selesai?”

“Iya, masih belum terlambat kan?” Minji menggeleng dan mengambil tasnya.

Sore itu Jinyoung berjanji akan mengantarkan Minji ke sebuah acara seminar mahasiswa berprestasi di Seoul. Meski Jinyoung tidak akan hadir di sana, tapi dia hanya ingin menemani kekasihnya itu menuju gedung seminar. Jinyoung merasa bersalah karena jadwalnya kini sudah sangat padat sehingga akan sangat sulit untuk berkencan dengan Minji. Tapi, gadis ini tidak pernah mengeluh ataupun marah terhadap Jinyoung. Dia hanya akan mengatakan ‘baiklah, lain kali tidak apa-apa kok’, dan lain kali itu ternyata tidak bisa Jinyoung wujudkan. Maka dari itu, hari ini dia harus bisa menyempatkan diri untuk keluar bersama Minji, berjalan bersama Minji, dan bergandengan tangan dengannya.

“Kau tadi makan apa dengan Baro?”

“Uhm? Aku tidak makan, hanya memesan teh saja.”

“Kenapa tidak memesan makanan juga? Nanti kau sakit kalau tidak makan.”

“Ah, biasa saja. Aku tidak akan kurus! Kau yang kurus, lihat! Huffth, pinggangmu semakin ramping saja! Kau tiap hari makan berapa kali? Jangan terlalu keras berlatih, jaga kondisimu juga.”

“Yaaa, ini bukan ramping. Kau tahu, di dalam sini terdapat abs!”

“Buahahaha, oh ya?! Abs? Abstrak?! Kau tidak mungkin punya abs, tubuhmu kecil begitu!”

“Apa?! Kau mau lihat? Ayo, sini!” Jinyoung merangkul Minji yang terus tertawa dan menggelengkan kepalanya. Hahaha, senangnya berjalan dengan suasana hati seperti ini. Jinyoung mencubit pipi Minji saking gemasnya melihat tawa gadis itu.

“Aduh, aduh! Jung Jinyoung! Aow, sakit!”

“Oh?! Ada penjual odenk! Kau mau? Sebentar yah,” Jinyoung berlari dan menghampiri kedai odenk. Tapi, saat dia hampir sampai di kedai itu, beberapa gadis muda segera menjerit dan menghampirinya.

“Oppa!!!”

“Itu Jinyoung B1A4!! Oppaaa!!”

“Jinyouuung!”

Mereka semua berlari dan menghampiri Jinyoung sambil mengeluarkan kertas, sapu tangan, CD album, topi, dan sebagainya untuk ditandatangani Jinyoung. Tidak mungkin Jinyoung menghindar dan menolak belasan fans yang menghampiri dan menyodorkan benda untuk ditandatangani olehnya. Dia tersenyum dan segera menandatangani, setelah itu dia bisa segera pergi dan mengantar Minji. Sayangnya, fans itu tidak berkurang malah bertambah jumlahnya. Aduh! Ini akan memakan waktu yang lama, dan Minji pasti terlambat menghadiri seminarnya. Jinyoung menoleh ke arah Minji. Gadis itu sedang bersandar di sebuah tiang dan tersenyum kepada Jinyoung, lalu mengamati jam tangan.

“Jinyoung-ssi, tolong tanda tangan di sini yah!”

“Ah, iya. Tunggu sebentar,” Jinyoung kembali melihat tempat Minji berdiri, tapi gadis itu sudah pergi ternyata. Ah! Kenapa harus seperti ini?! Bukan salah fans menghampirinya, tapi Jinyoung sendiri yang lupa menyamarkan identitasnya. Seharusnya dia memakai masker atau topi supaya tidak banyak orang mengenalinya sebagai Jinyoung B1A4, dengan begitu dia bisa bebas jalan dengan Minji. Ah, mianhae Minji. Jangan marah…

Minji tidak marah, tapi bagi Jinyoung, gadis itu pasti sangat kecewa dan sedih. Kesempatan emas untuk jalan dengan kekasihnya malah gagal karena fans mengerubungi Jinyoung. Bagaimana ini? Jinyoung merasa hubungan dia dan Minji semakin lama semakin terasa renggang…jauh. Jinyoung sudah sangat jarang sekali menelepon Minji di malam hari hanya untuk menyanyikan lagu tidur. Jinyoung sudah sangat kelelahan saat pulang dari jadwal syutingnya, dan ketika tiba di dorm, dia langsung tertidur dan lupa bahwa seharusnya malam itu dia menelepon Minji.

“Tidak apa-apa. Kau kan memang sedang sibuk,” jawab Minji pagi itu lewat telepon. “Lain kali saja, kan masih ada waktu. Kalian baru saja mengeluarkan mini album kedua, jadi wajar saja jadwal kalian sangat padat untuk promosi.”

“Maaf yah…”

“Iya, tidak apa-apa. Paling tidak, kau sudah meneleponku. Ah! Hari ini aku kosong, boleh aku bermain ke studio?”

“Ke dorm saja, aku hari ini juga bebas. Aku jemput ya.”

“Tidak usah, aku saja yang ke sana ^^. Beri tahu manajer eonni yah kalau aku mau main ke dorm kalian.”

“Baiklah, aku akan memasakkan makanan kesukaanmu. Cepat kemari ya, saranghae~.”

Jinyoung segera memasak sebelum Minji tiba di dorm. Dia sengaja mengosongkan dorm dari para member supaya Minji bisa bermain ke sana xP, makanya pagi itu Jinyoung langsung menelepon Minji. Wuah, ternyata Minji datang secepat kilat xD, sepertinya tidak sabar ingin bertemu Jinyoung!

“Oh, aku baru saja selesai memasak bulgogi,” kata Jinyoung gugup.

“Ha?! Bulgogi? Untuk apa memasak itu? Aku sudah makan kok ._.”

“Mwo?!! Kenapa malah makan duluan?!! Kan aku bilang akan memasak untukmu?! Lalu siapa yang akan memakan bulgogiku?!!!”

“Member saja yang memakannya.”

“Tidak mau! Harus kau!”

“Kau ini kenapa sih? Seperti anak kecil saja! Aku pulang kalau begitu.”

“Ya,ya,ya! Aku kan hanya bercanda, hehehe. Ayo, duduk dulu. Makan sedikit saja ya ^^. Jangan marah begitu…hehe, aku rindu bertengkar denganmu, mian.”

Minji melirik Jinyoung dengan sebal. Jinyoung segera menyiapkan sumpit untuk Minji dan membakarkan beberapa daging. “Enak tidak?” tanya Jinyoung. Minji mengangguk lalu melahap beberapa potong daging lagi.

“Kemana perginya anak-anak?”

“Oh, mereka aku suruh pergi hari ini.”

“Kenapa?”

“Karena aku mau pacaran denganmu, jadi mereka sementara tidak boleh pulang ke dorm.”

“Pabo!”

“Apa?!”

“Jangan begitu terhadap mereka! Aku senang kalau ada mereka…”

“Tapi nanti mengganggu..”

“Dengarkan dulu baru bicara!” bentak Minji.

“Jangan galak-galak, kau jadi terlihat tua.”

“Apaaaa?!!! Jinyouuuung!!!” Minji memukuli Jinyoung dengan boneka bebek yang tergeletak tak waras di lantai (^^mungkin punya Sandeul). “Kau nakal sekali sih?”

“Tapi kau suka, kan?”

Minji menjulurkan lidahnya. “I don’t know, baby! Oh iya, aku…ada sesuatu yang ingin kuminta darimu.”

“Apa? Serius sekali?”

“Itu…seminggu ke depan…kita jangan bertemu dulu ya?”

Jinyoung menjatuhkan sumpitnya, dan menatap Minji. Dia tidak suka pembicaraan ini. Rasanya ingin sekali pergi dari dorm saat ini, karena Jinyoung merasa tidak akan sanggup mendengar kalimat Minji berikutnya. “Kenapa?”

“Ehmmm,” Minji berdeham. “Ahem! Aku…ada ujian di kampus, jadi….aku butuh waktu untuk sedikit fokus belajar.”

“Fiuuuh, aku pikir kenapa. ^^ Kalau begitu aku main ke apartementmu, nanti aku bawakan makanan supaya kau semangat belajar.”

“Tidak boleh!”

“Eh?”

“Tidak boleh datang ke apartementku, tidak boleh datang ke kampusku, dan tidak boleh meneleponku dulu. Uhmm…ujian kali ini agak sulit bagiku, jadi…aku ingin lebih berkonsentrasi. Aku ingin kita tidak saling menghubungi dulu. Dan aku rasa, ini juga sangat baik untuk jadwal promosi album barumu, kan? Kita kurangi saja jadwal pertemuan kita.”

“Bukankah kita memang jarang bertemu? Apanya yang dikurangi?”

“Ah, benar juga ya, hahaha.”

“Kalau aku mengirimimu pesan? Apakah boleh?”

“Pesan? Uhmmm…mungkin…aku tidak membalasnya.”

“Aiissshhh, kenapa sih?! Lalu bagaimana jika aku merindukanmu nanti? Dan apakah kau tidak akan merindukanku?”

“Hmmm…aku tidak tahu. Mungkin…aku akan sangat merindukanmu, tapi…aku benar-benar ingin fokus dalam ujian kali ini.”

Jinyoung megacak poninya sambil berpikir. Bagaimana pun juga, tidak mungkin dia menghalangi jalan Minji. Jika gadisnya meminta untuk tidak bertemu dengan alasan apapun, Jinyoung sebenarnya tidak akan benar-benar mematuhinya. Tetapi..kali ini lain, Minji terlihat serius saat mengatakan ingin fokus pada ujian. Jinyoung sangat paham bagaimana kondisi Minji. Kekasihnya bukanlah seorang mahasiswi yang bisa dengan mudah membayar semester perkuliahan, dan gadis ini telah berusaha keras di kuliah supaya tidak terlalu mengecewakan orangtuanya. Jika hanya karena tidak tahan ingin bertemu Minji, kemudian Jinyoung membuat nilai Minji hancur saat ujian nanti, maka dia hanya akan melihat Minji menangis kecewa setiap harinya. Ah! Ini sangat menyiksa, tapi…Minji akan lebih tersiksa jika ujiannya gagal nanti.

“Baiklah,” jawab Jinyoung akhirnya. “Setelah satu minggu, kau yang harus meneleponku ya.” Minji mengangguk dan tersenyum senang. “Karena kau bilang aku tidak boleh megirimimu pesan lewat SMS juga, jadi…sebagai gantinya adalah..”

Cup. Jinyoung mengecup bibir Minji pelan lalu mengedip padanya.

“Itu tadi harus diawetkan untuk satu minggu,” kata Jinyoung. Minji tertawa dan mencubit pipi Jinyoung saking gemasnya. Akan ada waktu bertemu lagi setelah satu minggu nanti. Bertahanlah Jung Jinyoung!

***

Satu minggu lewat tiga hari. Jinyoung duduk di ruang ganti studio SBS sambil memutar-mutar ponselnya. Huffth, sedang apa ya kekasihnya sekarang? Ujiannya sudah selesai atau belum? Apakah dia makan dengan baik selama menghadapi ujiannya? Apakah dia tidur dengan nyenyak setiap malam tanpa merindukan dirinya? Bolehkan Jinyoung menghubungi Minji sekarang?

“Ujiannya pasti sudah selesai, kok.”

“Uhm? Apa yang kau bicarakan, Baro? Ujian apa?”

“Aiii~ pura-pura tidak tahu,” goda Baro. “Kau sedang memikirkan noona kan? Ujiannya sudah selesai, aku sempat bertemu dengannya kemarin dan dia bilang sudah selesai ujian.”

“Apa? Kau bertemu dengannya? Apa dia bilang sesuatu tentangku? Dia merindukanku tidak?”

“Eng? Mana aku tahu, hyung! Tapi, dia tampak lelah…coba kau berkunjung ke tempatnya. Beri dia surprise, dia pasti suka xD.”

Ehm..benar juga. Lebih baik tidak menghubunginya, tapi langsung datang dan memberikan surprise untuk Minji. Jadi, gadis itu pasti sangat senang dan terkejut jika melihat Jinyoung tiba-tiba ada di depan pintu apartemennya.

“Hihihi.”

“Kenapa?” tanya Baro hati-hati, karena takut melihat hyungnya tiba-tiba terkikik sendiri. “E…jangan terlalu stress hyung..anu…kalau ada masalah bilang saja.”

“Heh, aku masih waras tau! -__-‘ aku hanya tertawa karena membayangkan wajah Minji yang terkejut dengan kedatanganku di apartemennya, jangan berpikir aku gila dan tertawa sendiri.”

“Oh, hahaha.”

“Surpriiiiiise!” teriak Jinyoung ketika Minji membuka pintu apartemennya.

“Uhm?” Minji terkejut dan tersenyum tidak percaya dengan apa yang dibawa Jinyoung saat itu. “Kenapa tidak meneleponku dulu? Dan..untuk apa membawa balon sebanyak itu?! Kau ini..masuklah, aku sedang memasak sup.”

Jinyoung segera masuk dan melepas jaketnya, lalu menghampiri Minji di dapur.

“Aku baru saja mau meneleponmu, tapi setelah selesai masak sup. Ah, kau sudah kesini duluan.”

Jinyoung tersenyum dan membantu Minji membawa mangkok sup ke meja makan. “Ujianmu sudah selesai, kan? Bagaimana?”

“Makan dulu baru kita bicara, oke? Kau tidak pernah mencoba masakanku, kan?”

“Kau bilang tidak bisa memasak?”

“Ah, itu dulu. Karena Jinyoung kekasihku yang paling manis itu ternyata sangat pintar memasak, jadi aku belajar memasak juga!”

“Aaah, aku terharuuuu >_<.”

“Dicoba dulu baru bilang begitu! Semoga percobaan kali ini rasanya enak!” Minji menggenggam sendoknya dengan kuat sambil berharap penuh. Jinyoung tersenyum dan menyeruput kuah sup masakan Minji.

Ugh! Apa ini? Minji terlalu banyak menambahkan bumbu cabe di dalam supnya, jadi…rasanya pedas sekali!!!

“Bagaimana rasanya? Kau makan lahap sekali, rasanya tidak aneh kan?  Keasinan tidak?”

Jinyoung tersenyum dengan mulutnya yang penuh nasi. “Aku suka kok ^^.”

Minji ikut menyeruput supnya, dan langsung tersedak. “Uhuk! Uhuk!”

“Minji, minum dulu,” Jinyoung berdiri dan menghampiri kursi Minji sambil memberikan air minum. Jinyoung menepuk-nepuk pundak Minji dengan lembut. “Sudah baikan?”

“Eh…Jinyoung! Uhuk! Ini pedas sekali….bagaimana kau bisa memakannya dengan lahap?”

“Tidak…aku suka kok. Aku suka masakan pedas, kau lupa? ^^ Biar aku saja yang menghabiskannya, kan kau memang menyediakannya untukku?” Minji menyeka matanya, lalu menggembungkan pipinya sebagai tanda kecewa terhadap dirinya sendiri. “Aigoo, cute sekali >_<,” celetuk Jinyoung. Dia memang menyukai masakan pedas, tapi…masakan Minji mungkin adalah masakan terpedas yang pernah ditemui Jinyoung seumur hidup. Hahaha, tapi tidak apa-apa…jangan sampai gadisnya sedih karena supnya terlihat gagal di mata Jinyoung.

Minji menyusul Jinyoung yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. “Sudah selesai mencuci piringnya?” Minji mengangguk. Jinyoung mematikan televisi.

“Kenapa dimatikan?”

“Karena aku ingin seperti ini,” kata Jinyoung merebahkan diri di pangkuan Minji. “Aku bisa melihat Minjiku yang manis dari sini ^^.”

Minji malu dan menimpuk muka Jinyoung dengan bantal sofa.

“Kau mau kunyanyikan lagu?” Minji mengangguk. Jinyoung segera menyanyikan lagu Only One untuk Minji.

“Suaramu indah sekali, ya? Rasanya damai sekali jika mendengar suaramu :) .”

“Oh ya? Kalau begitu aku akan terus menyanyi untukmu supaya kau merasa nyaman ^^.”

Minji tersenyum dan mengecup kening Jinyoung. Ups! Tidak biasanya Minji mengecup duluan. Jinyoung sedikit gugup, pipinya memerah, dan degup jantungnya berdetak sangat kencang. Ah, Minji membuatnya memerah seperti saat pertama kali ia bertemu dengan gadis itu dulu. Saat itu Minji melayangkan sebuah senyuman untuk Jinyoung di dalam kelas dulu, tapi karena dia tidak mau terlihat memerah, jadi sikapnya seolah dingin terhadap Minji. Uugghh, masa-masa SMA dulu sangat imut bagi Jinyoung >_<. Terkadang dia merasa geli saat mengingat dirinya yang tidak berani menyatakan cinta ke Minji, tetapi hanya bisa mengekor di belakang Minji setiap hari di sekolah. Hahaha, Minji juga sangat polos…masa tidak paham kalau Jinyoung itu menyukainya dulu?

“Jinyoung-ah….”

“Uhm??”

“Kita…..putus saja ya?”

Jinyoung membuka matanya dan segera meluruskan diri, duduk di samping Minji. Ia tidak segera menatap Minji ataupun menjawab perkataan Minji barusan.

“Sepertinya…aku tidak bisa melanjutkannya. Kita berpisah saja.”

“Kau serius ingin putus denganku?” tanya Jinyoung. “Kalau begitu katakan sekali lagi dan lihat aku.”

Minji menatap Jinyoung dengan mata tajam. “Mari kita putus.”

(TO BE CONTINUE)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s