{FF} “Jinyoung vs Baro SEASON II: Baby I’m Sorry” (chapter 1)

Rated: T

Genre: Romance

Cast: Jinyoung, Baro

Author: Peny (@Jindeullie)

****

Hi ^^ akhirnya saya bikin FF lanjutan kisah dari Jinyoung vs Baro, setelah banyak dr kalian yang request :)

#FF ini kembali ke masa Jinyoung dan Baro rebutan seorang gadis bernama Ee Minji ^^. Masih inget kan ceritanya?? Coba baca lagi: {FF} “JINYEONG A LINE VS BARO B LINE chapter 1 | 2 | 3 | 4-end

316272_280055835339009_100000037853660_1146866_278316496_n1

 

-LAST EPISODE-

“Minji….adalah temanku. Dan temanku ini selalu menangis saat aku menghampirinya…aku tidak pernah tahu apa yang sedang dialaminya, dan aku juga tidak beharap dia memberitahuku. Tapi….hal yang paling ingin kulakukan adalah…andaikan aku mampu mengusap air matanya, temanku ini pasti tidak akan bersedih lagi…sayangnya…tanganku selalu terhenti..” (JINYOUNG)

“Aaah..noona, kalau kau seperti ini, aku malah semakin tidak pantas untukmu.” Minji menatap Baro. “Haha…biarkan aku menyukaimu sampai aku tidak bisa menyukaimu lagi, noona.” (BARO)

 
-****-

Minji sedang berdiri di depan pintu masuk Daeguk University. Dia berdiri sambil menatap layar HP-nya, menunggu pesan dari seseorang. “Dasar gila! Dia bilang akan mengantarku?!!”

Karena yang ditunggu tak kunjung datang, Minji akhirnya memasuki kampus itu seorang diri. Setiap mahasiswa yang ditemuinya langsung dihampiri dan bertanya “Di mana ruang Auditoriumnya?” atau “Maaf, Anda tahu di mana tempat mengambil formulir mahasiswa baru?”. Fiuh…tapi…sepertinya ada yang salah dengan kampus itu. Semua mahasiswanya tidak tahu apa-apa. Ya Tuhan, jangan-jangan mereka tidak asli pintar.

Akhirnya Minji menemukan sendiri ruangan besar, tempat di mana dia harus mengambil formulir pendaftaran masuk ke Daeguk University. Setelah mengisi semua formulir dan syarat-syarat  yang lain, Minji segera pulang menuju apartementnya.

‘Iwak peyeeeeekk…iwak peyeeeeek…’ (suara HP Minji), ada sebuah pesan masuk dari Jinyoung: KAU DI MANA SEKARANG? AKU KE SANA. NANTI SEMUANYA KUJELASKAN. Minji pun membalasnya dengan : JANGAN SEKARANG, AKU TAKUT KAU MELAYANG HINGGA KE AKHIRAT. BESOK SAJA.

Setelah mengirim pesan balasannya, Minji mampir ke sebuah cafe dan duduk menyendiri di sana. Dia sengaja menunda kepulangannya menuju apartement, karena Jinyoung pasti akan menghampirinya di sana sekarang. Lebih baik menghindari manusia sialan itu. Cih!!

“Ya!! Kau di sini ternyata?!!!!” Minji langsung menyemburkan tehnya saat mendengar suara bulat Jinyoung dari bangku di sampingnya. Apa??? Kenapa dia malah bertemu Jinyoung di sini?? Sialan.

“Ya Tuhan, aku baru saja ingin pergi ke apartementmu.”

“Kenapa kau di sini? Ka..kau mengikutiku??!!!!”

“Apa? Aku tadi ada interview dengan media di sini. Untung kau malah menghampiriku kemari…katamu kau tidak bisa ditemui hari ini, jadi…”

“YA!!! Berisik!! Lebih baik kau diam dan duduk di tempatmu semula, habiskan teh dan cake cokelatmu, lalu ambil tasmu dan bayar tagihannya, kemudian pulang. Paham?”

“Kau marah padaku.”

“Tidak.”

“Marah.”

“Tidak.”

“Marah.”

“Tidak!”

“Aku menyukaimu.”

“Tid….ha? Apa?” Minji menatap Jinyoung sekarang. Wajahnya terlihat sangat serius dan sedikit tegang. Jadi…setelah sekian lama, inilah saatnya Jinyoung menyatakan perasaanya kepada Minji.

“Maaf, hari ini aku gagal mengantarmu ke Daeguk University, karena manajer tiba-tiba mengatakan aku ada interview. Aku mempersiapkan ini semalaman…aaahhh…aku bingung sekali saat membaca pesan singkatmu tadi. Seharusnya aku menyatakan perasaanku hari ini, tapi aku malah membuatmu marah. Mian…”

Minji tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya menatap tehnya yang semakin lama semakin membuatnya bingung, kenapa teh itu berwarna cokelat? Kenapa teh tidak berwarna merah saja? Merah? Eh? Kenapa Minji berpikir tentang warna merah?? Apakah dirinya sedang memerah sekarang?

“Uhmm…kenapa kau diam saja??” Jinyoung mulai gugup saat melihat Minji tidak menanggapi pernyataan cintanya. “Kau…marah? Ehmm, kalau kau tidak suka aku…”

“Ya!!” akhirnya Minji menyahut. “Aku sedang bertanya-tanya… Kenapa seorang penyanyi terkenal sepertimu, yang pandai sekali menciptakan lagu, tetapi tidak pandai menyatakan cintanya?”

“Apa?! Tidak pandai?? Heh, bukankah aku sudah pernah menyatakan isi hatiku? Dan itu sangat romantis!”

“Hah?! Kapan? Aku tidak pernah tahu. Yang aku tahu, kau mencuri ciumanku saat aku tertidur di tepi pantai dulu!!!”

Jinyoung langsung tersedak dan terbatuk-batuk. “K-k-ka-kau…tahu?? Aku yang menciummu?? Baro yang menceritakannya?”

“Molla! *i don’t know!*”

“Ya!” Jinyoung menyeruput teh milik Minji, kemudian melanjutkan, “masa kau tidak tahu? Aku kan menciptakan sebuah lagu untukmu?”

“Lagu??”

“Ee Minji!! Jangan bilang kau tidak tahu lagu-lagu kami…kau tidak pernah mendengarkan lagu B1A4? Kan aku sudah pernah bilang dulu, ‘Jangan lupa dengarkan acara radio jam delapan malam, aku dan teman-teman ada di sana’, apa saat itu kau tidak mendengarkan radio?”

“Kau ini bodoh?? Mana mungkin aku mendengarkan radio? Aku kan tidak punya radio!”

“Yasalaaaaaammm!!! Ambil napas pelan-pelan….fiuuuhhh,” Jinyoung menggerutu pelan, dan Minji menyipitkan mata melihat tingkah aneh cowok satu itu. Minji sebenarnya tahu, tapi dia berpura-pura tidak tahu. Minji tahu bahwa Jinyoung menciptakan sebuah lagu berjudul “Bling Girl” yang ditujukan untuk dirinya. Minji juga tahu bahwa saat di sebuah acara radio, Jinyoung menyatakan bahwa dia sengaja menciptakan lirik itu karena dia sedang jatuh hati terhadap seseorang. Tetapi Minji tidak mau mengatakan bahwa ia tahu semua itu.

“Aku sudah selesai, kau masih ingin di sini atau bagaimana?” tanya Minji setelah Jinyoung menyeruput habis teh miliknya.

“Hah?? Kau mau pulang? Kan aku sedang menyatakan cinta?”

“Besok saja menyatakannya, aku sedang dalam mood yang buruk.”

Minji beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan cafe. Jinyoung pun ikut mengekor di belakang Minji. Aneh..tidak biasanya Jinyoung menjadi pendiam saat mengekor Minji?? Kenapa? Apa dia jadi marah karena Minji tidak menghiraukan pernyataan cintanya??

“Kau tidak bisa berjalan pelan, ya?” Jinyoung akhirnya mengajak Minji bicara dan menarik lengannya dengan keras. “Lampu merah begitu mana bisa kau terus berjalan?! Ayo, kemari.”

Jinyoung menarik tangan Minji dan mengajaknya jalan-jalan di bawah pohon-pohon sakura yang besar dan rimbun. Saat mereka mulai berjalan pelan, Jinyoung melepaskan genggamannya di lengan Minji.

“Oh?? Ada kelopak bunga sakura di rambutmu,” Jinyoung mengambil kelopak bunga sakura yang bertebaran di kepala Minji. Lembutnya rambut Minji membuat Jinyoung enggan melepaskan jari-jemarinya di kepala Minji.

“Sudah hilang belum?”

Jinyoung mengelus rambut Minji dengan pelan. Dia sangat menyayangi gadis ini sejak pertama kali hadir di sekolahnya. Dia sengaja mencari masalah di game center supaya Minji lebih akrab dengannya. Hanya saja, satu hal yang dulu paling disesali Jinyoung, yaitu mengajak Minji untuk berpura-pura menjadi kekasihnya, bukannya langsung menyatakan cinta dan menjalin hubungan yang serius.

“Heh?! Mau sampai kapan kau memegang rambutku?!! Sudah hilang atau bel..,” kalimat Minji terputus karena Jinyoung tiba-tiba memeluk Minji. Uhm?? Minji mendengar detak jantung Jinyoung dengan sangat keras. Bagaimana ini??

“Jadi…inilah jawabanmu?”

“Apa?!”

“Kau tidak bisa berbohong padaku, Ee Minji,” kata Jinyoung pelan sambil terus memeluk Minji dan mengelus rambutnya. Minji harum sekali sehingga membuat Jinyoung merasa nyaman saat memeluknya. “Jantungmu berdegup seirama dengan jantungku, benarkan?”

Minji tidak bisa mengelak lagi sekarang. Jika Jinyoung sudah mengetahuinya sekarang, apa yang harus dikatakannya untuk mengelak?

“Aku…aku tidak tahu…benar-benar tidak tahu,” jawab Minji pelan. Jinyoung kemudian melepaskan pelukannya (terlalu lama pelukan di jalanan itu tidak baik ^^), dan menunggu Minji menyelesaikan kalimatnya. “Uhmm…aku…aku tidak yakin apakah aku juga memiliki perasaan yang sama? Aku…sangat bingung.”

“Baiklah ^^, kalau begitu ijinkan aku yang meyakinkan perasaanmu.”

“Hah?”

“Tinggallah di sisiku, dan aku akan meyakinkanmu bahwa kau sama sepertiku.”

Minji menatap Jinyoung untuk beberapa saat, lalu mengangguk pelan. Jinyoung tersenyum dan menggenggam jemari Minji, mengajaknya kembali pulang ke apartement Minji.

***

[EMPAT BULAN KEMUDIAN]

Minji masih membiasakan diri menjadi kekasih Jinyoung yang sesungguhnya. Ada begitu banyak hal yang berbeda setelah menjadi kekasih Jinyoung, bahwa ia menjadi susah tidur di malam hari. Bukan hanya tidur, tapi saat makan pun ia menjadi susah. Minji hanya ingin bertemu dengan Jinyoung di setiap kali dia melakukan suatu hal. Hmm….apakah dia sekarang menjadi sangat menyukai Jinyoung??

“Kenapa?? Kau sakit?” tanya Jinyoung, membuyarkan lamunan Minji siang itu. “Kenapa kau tidak memakan bekalmu?? Kau bilang kau menyukai spageti buatanku?? Itu bekal spesial untukmu.”

“Iya…aku kan sedang berpikir, kenapa diganggu,” gerutu Minji sebal.

“Bagaimana kuliahmu di Daeguk? Berjalan lancar?”

“Iya, aku tidak mengalami kesulitan. Kau sendiri?? Bagaimana dengan persiapan mini album keduamu?”

“Apakah ada cowok yang mendekatimu?”

“Kapan kalian akan memulai perekaman untuk mini album kedua?”

“Kau tidak memiliki penggemar rahasia, kan?”

“Malam ini kau tampil lagi, ya?”

[-__-‘ Jadi, sebenarnya mereka itu sedang membicarakan apa, sih?!!]

Jinyoung menggenggam tangan Minji, lalu menatapnya dengan serius. “Seberapapun usahaku mengalihkan pembicaraan, tapi gadisku ini tetap saja menanyaiku tentang albumku. Minji-ya, percayalah padaku bahwa aku akan terus bersamamu. Hanya dua bulan, tidak akan lama, setelah semuanya selesai…”

“Kalian akan pergi dari Korea, kan?”

Jinyoung menghela napas, sedikit frustasi. Jinyoung tahu Minji saat ini sedang meragukannya. Akan sangat sulit sekali menjelaskan bahwa kemungkinan bertemu dengan Minji nanti menjadi sedikit, atau mungkin tidak akan pernah. Tapi, setelah album keduanya selesai dirilis dan dipromosikan, Jinyoung akan segera menemani Minji lagi.

“Setidaknya…kau menjelaskan padaku tentang semua berita yang beredar di media itu,” kata Minji dengan lesu. Dia meletakkan kembali bekal makanan milik Jinyoung, dan menatap rumput di taman belakang kampusnya tersebut.

“Kau terlalu banyak mengetahuinya dibanding diriku sendiri, jadi…aku pun tidak tahu harus menjelaskan apa padamu?” Jinyoung menggenggam tangan Minji dengan lebih erat, dan meraih tangan satunya (yang memegang kotak bekal). Jinyoung kemudian mengecup kedua tangan Minji dan mengatakan, “Aku percaya padamu. Saat kita tidak bisa bertemu nanti, aku percaya kau akan menungguku. Saat aku kembali nanti, kau akan berlari dan memelukku.”

“Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi?? Satu atau dua kali dalam satu bulan saja. Itu cukup bagiku, apakah tidak bisa? Atau satu bulan sekali? Dua bulan sekali?”

Jinyoung tidak menjawab. Dia tidak bisa memberi Minji kepastian, bahwa mereka akan bisa bertemu lagi setelah ini. “Kenapa tidak menjawab? Kapan kita bertemu lagi? Kan kau belum berangkat ke Jepang?”

“Jepang? Kau tahu kami akan ke Jepang?” Jinyoung sangat terkejut bahwa Minji mengetahui rencana manajement mereka yang ingin melakukan pemasaran ke Jepang.

“Jadi itu benar? Jadi…tidak ada sedikit pun waktu untuk melihatmu besok? Aku akan datang ke studiomu…”

Cup!

Jinyoung mencium bibir Minji dengan lembut, dan saat melepas ciumannya, Jinyoung melihat air mata Minji.

“Jika aku melarangmu pergi, apakah kau akan tetap pergi?” tanya Minji pelan. Jinyoung menghapus air mata Minji, dan kembali…cup! Jinyoung kembali mengecupnya dengan lembut. Jinyoung tidak tahu bagaimana meyakinkan Minji, dia ingin Minji percaya padanya dan menunggunya kembali.

“Bisakah kau tidak menangis untukku? Itu sangat berat bagiku untuk pergi ke Jepang besok, Minji,” kata Jinyoung saat melepas ciuman keduanya.

“Ap..apa? Besok?! Kau tidak memberitahuku sebelumnya?!! Ya?!!! Jinyoung?!! Jung Jinyoung!!!” Jinyoung membiarkan Minji memukuli lengannya sambil bertanya marah padanya.

“Aku tidak suka melihatmu sesedih ini, Minji…”

“Aku benci padamuuu,” kata Minji pelan dengan air mata yang semakin lama semakin membasahi pipinya. “Aku bahkan sudah menyiapkan segalanya…”

“Apa? Kau menyiapkan apa?”

“Aku bahkan belum menyatakan perasaanku padamu…belum satu kalipun… saat aku menyiapkannya untuk ulang tahunmu bulan depan, kau malah sudah pergi besok… .” Minji menghapus air matanya sendiri dan menatap Jinyoung, “aku sangat menyukaimu, aku tidak bisa jika tidak bertemu denganmu satu hari saja..”

Jinyoung memeluk Minji sambil membisikkan kalimat-kalimat permintaan maafnya. Setelah Minji tenang, Jinyoung mengajak Minji pulang. Tetapi saat diperjalanan, manajer Jinyoung menelpon dan menyuruhnya untuk segera datang ke studio.

“Hyung?!” Baro segera menghampiri Jinyoung dan melihat Minji dengan wajahnya yang sembab. “Noona menunggumu.”

“Kau tunggu di sini, aku akan segera kembali. Tidak apa-apa?” Jinyoung bertanya pelan kepada Minji, tetapi Minji hanya diam.

Saat Jinyoung dan Baro menuju lift bersama, Baro segera bertanya, “Apa hyung sudah mengatakannya pada Minji noona?”

“Dia sudah mengetahuinya sebelum aku memberitahukannya.”

“Apa?! Kenapa bisa begitu? Aku sudah bilang, kan? Beritahu noona dari awal sebelum media menyebarkan berita bahwa kita akan ke Jepang, kan?!”

Jinyoung tidak mampu menjawab Baro. Ia hanya menghela napas dan menyandarkan kepalanya di dinding lift.

“Bisakah kau mengantarkan Minji pulang?” Jinyoung akhirnya mengeluarkan suaranya setelah sepuluh menit mereka membisu. “Noona bilang aku harus menyelesaikan aransement lagunya. Besok pagi aku baru bisa pulang ke dorm. Tolong antarkan Minji pulang, Baro.”

Setelah mengucapkan permohonannya, pintu lift membuka dan Jinyoung keluar dengan lesu. Baro menatap sedih hyungnya itu. Kenapa harus membuat gadis yang disukainya menjadi sesedih itu? Kenapa tidak mengatakannya dari awal? Apakah Jinyoung hyung tidak tahu bagaimana perasaan Minji noona?

Baro menghampiri Minji dan mengajaknya pulang. “Hyung harus menyelesaikan aransement lagunya, aku akan mengantar noona pulang, Ayo ^^.”

Tidak ada yang bisa dibicarakan selama perjalanan pulang. Baro sendiri tidak tahu harus mengatakan apa kepada Minji. “Nah, sudah sampai. Noona masuk dulu, aku akan pulang setelah noona masuk ^^.”

Tapi Minji hanya berdiri dan bertanya kepada Baro, “Kau juga akan pergi, kah? Tidak bisakah kalian tidak pergi?”

Baro memeluk Minji dari belakang, membuat Minji terkejut. “Ijinkan aku memeluk noona. Aku tidak suka melihatmu sedih. Aku mohon, jangan seperti ini. Kami akan segera pulang. Aku akan membantu hyung menyelesaikan segala urusannya, dan mengembalikan hyung kepada noona. Paling tidak, noona tetap tersenyum.”

“Aku tahu. Aku akan menunggu dia pulang.”

Baro melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Minji. “Lalu kenapa masih menangis? ^^.” Baro mengusap air mata Minji, dan tersenyum menyemangatinya. Tiba-tiba, entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu, Baro mengecup kening Minji dengan pelan. Minji menatap Baro dengan bingung.

“Jaljayo~,” Baro mengedipkan mata dan menyuruh Minji masuk ke apartemennya. Minji menghela napas dan masuk ke apartemen. Sementara Baro masih duduk di sana sampai sebuah mobil hitam menjemputnya.

Minji terbangun keesokan harinya dengan sebuah pesan dari Jinyoung: “Selamat pagi matahariku. Saranghae ^^. Cepat sarapan!”

Minji segera menyiapkan diri untuk mengantar Jinyoung ke bandara. Dengan tergesa-gesa, Minji menghentikan taksi yang masih ada penumpangnya, lalu melaju menuju dorm Jinyoung. Sayangnya, ketika tiba di dorm, pemilik asrama itu mengatakan bahwa anggota B1A4 dan staffnya sudah berangkat ke Jepang semalam.

“Apa?!! Se..semalam??!” Minji terduduk lemas di lantai. Segalanya menjadi kacau, kepalanya pusing dan sulit baginya untuk bernapas. Si pemilik asrama itu membantu Minji duduk di sebuah kursi dan memberinya teh.

“Saya masih ada pekerjaan, nona. Jika butuh sesuatu panggil saya saja.”

“Bolehkah saya masuk ke dormnya?”

Si pemilik asrama membukakan pintu dorm dan memberi Minji waktu tiga puluh menit di dalam. Minji segera berlari menuju kamar yang biasanya dipakai Jinyoung untuk tidur. Kamar itu kosong, barang-barangnya masih ada, tetapi penghuninya telah pergi. Minji duduk di tempat tidur Jinyoung, lalu menatap bagian atas tempat tidurnya.

“Kau dan Baro tidur di sini, kan? Kau sekarang di mana? Pesawat? Atau sudah di Jepang?”

Minji membaca ulang pesan dari Jinyoung pagi itu, lalu menelpon Jinyoung. Lama sekali menunggu sahutan dari seberang.

“Eh?! Minji?” suara Jinyoung di telepon terlihat sangat terkejut.

“Ya!!! Pabo*!!! Nappeun*!!!! Apa-apaan kau ini?!!!” (*bodoh!! *jahat!!)

“Minji….aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Aku tidak sempat memberitahumu, semalam aku pikir aku hanya perlu merapikan lirik yang kubuat sebelum pergi, tapi ternyata kami harus segera berangkat. Minji? Ee Minji?” Jinyoung terus memanggil Minji, karena Minji tidak mengatakan apapun selain menahan air matanya.

“Apa kau sudah makan?” Jinyoung kembali bertanya. “Kau sekarang ada di mana?”

“Aku ingin bertemu denganmuuu…”

“Apakah…kau di dorm sekarang? Minji…apakah kau sedang menangis?? Bukankah kemarin kau sudah berjanji untuk tidak menangis lagi? Aku akan segera pulang. Sekarang kami sudah mulai perekaman, jika segalanya berjalan lancar, kurang dari satu bulan aku sudah kembali ke Korea.”

“Aku tidak ingin menunggumu…”

“Hah?!! Apa?! Hei! Ee Minji!! Dengarkan aku…member sekarang sedang mempermudah proses perekamannya, jadi…”

TUT! Minji mematikan sambungan telponnya. Sudah cukup rasanya mendengar suara Jinyoung. Sekarang yang harus dilakukannya adalah menunggu kekasihnya pulang. Jinyoung bilang kurang dari sebulan. Dia akan menunggunya. Tidak akan lama. Semangat!

Minji menerima pesan dari Jinyoung, ada sekitar 15 pesan dengan tulisan yang sama: SARANGHAE, SARANGHAE Ee Minji. Tunggu aku, ya.

Minji menatap pesan itu lalu mengambil bantal milik Jinyoung dan memukulnya dengan keras. “Itu untukmu besok saat pulang, Jung Jinyoung!!!”

(TO BE CONTINUE)

Advertisements

One thought on “{FF} “Jinyoung vs Baro SEASON II: Baby I’m Sorry” (chapter 1)

  1. Pingback: {FF} “Jinyoung vs Baro SEASON II: Baby I’m Sorry” (chapter 2) | B1A4 Jinyoung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s