{FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 4-END)

316272_280055835339009_100000037853660_1146866_278316496_n1

Rate: T

Genre: Romance Comedy

Cast: Jinyoung, Baro

Author: Peny

 

Closing:
Annyeong~ :) Terima kasih yah sudah baca fanfiction saya ^^ dari chapter 1 sampai yang terakhir ini. Semoga last chapter ini memuaskan hati masing-masing halmae hehee.
Happy reading~
-Jindeullie-

Chapter 1: baca di sini
Chapter 2: baca di sini
Chapter 3: baca di sini

Mulanya Minji belum terbiasa dengan kondisi single seutuhnya, karena biasanya di jam istirahat seperti ini, Jinyeong akan langsung menyuguhkan sebotol susu dan sekantong penuh roti. Tapi sekarang, dengan berakhirnya status pacaran (pura-pura) mereka, Minji tak lagi melihat mejanya dipenuhi dengan bungkus-bungkus roti. Minji melirik Jinyeong yang sedang tidur di sebelahnya. Jinyeong masih sama seperti saat mereka berpura-pura pacaran, masih sering mengobrol, bertanya pelajaran, dan berceloteh panjang lebar tentang latihannya, tapi ia tak lagi memberikan service-service kebaikan seperti dulu terhadap Minji.

            “Oi!”

            Minji terpekik pelan saat Jinyeong bangun dan menatapnya dengan mata curiga.

            “Apa sih?! Mengagetkan orang saja!” bentak Minji.

            Jinyeong segera mengecek isi tasnya, lalu mengeluarkan sebungkus roti dalam tasnya. “Untung kau selamat,” katanya kepada si roti.

            Apa? Apa Jinyeong berpikir Minji mencuri rotinya saat dia sedang terlelap tidur? Cih! Minji segera meninggalkan Jinyeong yang sedang menikmati rotinya. Ia menuruni tangga menuju lantai dua, dan di sanalah, Baro memanggilnya. Minji tersenyum dan segera menghampirinya.

            “Kau sedang mendengarkan apa?” tanya Minji karena Baro terlihat sedang mengenakan headphone di telinganya.

            “Aaahh…ini,” kata Baro seraya memasangkan headphone ke telinga Minji.

            Wuah…ternyata Baro sedang mendengarkan lagu karyanya bersama teman-teman grup di manajemen musik. Minji belum pernah mendengar yang satu ini, dan dia sangat menyukai lagu ini.

            “Suka?”

            Minji mengangguk dan tersenyum.

            “Ini cocok untuk orang yang sedang patah hati,” kata Baro lembut, lalu menawarkan sekotak susu cokelat untuk Minji.

            Patah hati? Kalimat itu sedikit aneh jika ditujukan untuk Minji. Demi menghindari kontak mata dengan Baro, Minji segera menyeruput susu cokelatnya. Bagaimana jika Baro berusaha menatap Minji, dan tahu bahwa Minji tidak sedang patah hati karena baru putus dengan Jinyeong.

            “Andwae!”

            “Eh?”

            “Ah..tidak apa-apa.. ahahaa, susunya enak, kog.”

            “Noona, pulang sekolah nanti, aku tunggu di depan gerbang sekolah ya?”

            “Uhmm..kenapa?”

            “Pokoknya datang saja, oke?” Baro mengeluarkan senyumnya yang paling manis, lalu kembali ke kelasnya.

Baro terlihat sangat lucu jika berdiri di samping pintu gerbang sekolah dengan kepala yang menengok ke sana-kemari mencari seseorang. Matanya terlihat sangat besar dan mulutnya sedikit terbuka. Minji tersenyum melihat cowok manis itu sedang mencarinya di antara gerombolan gadis-gadis yang sedang berhamburan keluar dari gedung sekolah.

            “Baro!”

            Cowok manis itu segera menengok ke arah Minji, dan tersenyum lega.

“Kita mau kemana?”

            “Aku ingin melihat bunga,” kata Baro sambil membawakan tas Minji.

            “Eh? Tasnya tidak perlu…”

            “Tidak apa-apa. Ayo.”

            Baro segera membawa Minji ke taman yang penuh dengan bunga. Wah, indah sekali. Ini termasuk salah satu hal yang paling disukai Minji dari Baro. Minji tahu bahwa Baro mengajaknya ke taman adalah untuk menghibur hati Minji. Ah, baro masih saja berpikir bahwa Minji sedang patah hati karena Jinyeong.

            “Terima kasih ya, Baro,” kata Minji pelan.

            “Aku hanya ingin melihat noona senang. Aku suka melihatmu tersenyum, dan demi itu, apapun pasti kulakukan.”

            Baro tersenyum dan segera berlarian ke taman itu seperti anak kecil. Ia berteriak memanggil Minji supaya ikut bersamanya bermain di bawah air mancur di taman itu. Minji yang saat itu melihat senyum Baro begitu tulus, tidak mampu lagi menyembunyikan kebohongan yang dilakukannya dengan Jinyeong. Paling tidak, perasaan Baro tidak boleh dipermainkannya. Maka, ia memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Baro sore itu.

            Minji menghampiri Baro yang sedang asik menangkap kupu-kupu.

            “Baro…aku….uhmmm, ada yang mau kukatakan padamu.”

            “Kenapa?” tanya Baro sambil tersenyum saat kupu-kupu yang ditangkapnya terbang mengelilingi topi rajutannya. “Kenapa wajah noona serius seperti itu? Apa ada yang tidak beres?”

            Tapi Minji malah tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang. Minji mengerutkan keningnya dan berusaha mengumpulkan semua keberaniannya.

            “Noona? Kau tidak sakit, kan? Apa sebaiknya aku membelikanmu obat?”

            “Ah! Aku tidak apa-apa.. Uhmm, aku hanya sedang mempersiapkan diri.”

            Baro mengamati wajah Minji dengan penuh kekhawatiran. Ia mengajak Minji duduk di bangku taman. “Nah, begini mungkin sedikit lebih nyaman.”

            “Aku harap kau tidak marah saat mendengarkan ceritaku,” kata Minji pelan.

            “Kenapa aku harus marah? Aku tidak mau marah denganmu, noona,” jawab Baro dengan senyum manjanya.

            “Ini…tentang hubunganku dengan Jinyeong…,” Minji menatap Baro sebentar, melihat senyum manis di wajahnya itu membuat Minji semakin mantap untuk mengungkapkan kebenarannya. “Aku dan Jinyeong tidak pacaran.”

            “Uhmm..apa?”

            Minji melihat, senyum itu sudah melayang dari wajah Baro. “Kami tidak pernah pacaran. Kami hanya berpura-pura.”

            “Noona? Kau kenapa? Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

            “Baro…. Aku dan Jinyeong saat itu hanya berpura-pura pacaran. Kami hanya menjalin hubungan palsu, karena Jinyeong tidak mau dijodohkan oleh manajer kalian. Dan aku kalah taruhan dengannya, jadi aku harus berpura-pura pacaran dengannya.”

            Minji menjelaskan semuanya dengan sangat hati-hati, dan ketika dia telah selesai menjelaskannya, tidak ada satu pun kalimat yang keluar dari Baro. Minji kemudian mengucapkan permintaan maafnya kepada Baro.

            “Ah…aku harus berkata apa, ya?” Baro akhirnya mengeluarkan kalimat yang Minji pun tidak tahu harus menjawab apa.

            “Mianhaeyo..”

            Baro melepaskan tas Minji dari punggungnya, dan meletakkannya di samping Minji.

            “Noona, aku harus segera kembali ke dorm. Maaf, kali ini aku tidak bisa mengantarmu pulang. Noona, hati-hati saat pulang nanti ya. Aku pergi dulu.”

            Baro meninggalkan Minji di bangku taman sore itu. Minji berharap Baro memarahi dan memaki-makinya, tapi ia tidak melakukannya. Ia malah bertanya apa yang harus dikatakannya kepada Minji, lalu berpamitan pulang saat Minji hanya mampu mengucapkan kata maaf.

            “Bodohnya aku!” umpat Minji pelan kepada dirinya sendiri. Tentu saja Baro sangat marah. Tentu saja Baro sangat tersakiti. Bodoh! Apa yang dipikirkan Minji sehingga ia mengatakan semua itu kepada Baro? Minji pun mulai menangis. Ia menangis karena kebodohannya sendiri. Dan yang paling membuatnya semakin dalam menangis adalah ia mengingat kembali hubungannya dengan Jinyeong. Kenapa ia harus bertemu dengan mereka berdua? Kenapa ia dipertemukan dengan keduanya di sekolah?

            “Aaaaarrrgh!” teriak Minji sebal. Dan betapa kagetnya, Baro ada di belakangnya saat itu. Gawat! Kenapa dia kembali lagi? Minji segera menghapus air matanya. Ia melirik Baro yang meletakkan sebuah payung di bangku.

            “Sepertinya noona tidak membawa payung, pakai ini,” katanya lalu pergi lagi meninggalkan Minji.

            Minji menatap payung itu. Sekarang, apa yang harus dilakukannya jika bertemu dengan Baro?

“Hei, nona sombong!”

Minji menengok, dan melihat Jinyeong di bawah payungnya, di depan mesin minuman, menyodorkan sekaleng cokelat panas untuk Minji.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau menunggu bus? Malam-malam begini kenapa kau masih berkeliaran di sini?”

Minji menatap kaleng minuman yang ditawarkan Jinyeong, lalu menjawab dengan sinis, “Aku sedang dalam mood yang tidak baik saat ini. Pergilah.”

“Apa? Kau sombong sekali. Ngomong-ngomong kenapa kau masih memakai seragam? Kau tidak mau minuman ini? Ini..”

“HEH JINYEONG!!! DIAM BISA TIDAK SIH?!” teriak Minji. Ah! Kenapa ia kembali menangis saat ini? Minji membuang muka supaya Jinyeong tidak melihatnya menangis, dan ia berharap Jinyeong segera pergi. Tapi, sebelum Jinyeong bertanya-tanya lagi, Minji segera beranjak dari bangku halte.

“Aow!” pekik Minji saat terjatuh. Jinyeong langsung menghampirinya, dan ia melihat pergelangan kaki Minji sedikit memerah. Ia  membantu Minji duduk kembali di bangku halte.

“Apa kau tidak tahu, kakimu terluka, Minji,” kata Jinyeong.

Minji masih saja menangis. Sulit bagi Minji untuk menyembunyikan perasaannya malam itu. Jinyeong segera berjongkok di depan kaki Minji, dan melepas sepatu gadis itu dengan pelan. Ia pun membalut luka di pergelangan kaki Minji dengan sapu tangannya.

“Kau punya sapu tangan? Aku hanya punya satu,” tanya Jinyeong lembut. Tapi Minji masih saja menangis, dan ini membuat Jinyeong sedikit bingung. Ia mengeluarkan headband kesayangannya untuk menutup luka di kaki Minji yang satunya. Setelah semua luka selesai dibalutnya, ia duduk di samping Minji. Minji kembali membuang muka dari hadapan Jinyeong.

“Kau kenapa, sih? Melihatku saja tidak mau,” Jinyeong menepuk-nepuk pundak Minji sambil menggerutu pelan. “Hei.. Ee Minji?”

“Molla,” akhirnya Minji menjawab dengan pelan setelah tangisnya sedikit mereda.

Jinyeong hanya menghela napas, lalu kembali menatap Minji. Gadis itu terlihat sangat lelah dan frustasi. Apa yang dialaminya hari ini? Jinyeong hanya mampu menepuk-nepuk pundak Minji supaya gadis itu tenang. Dan entah kenapa, Jinyeong jadi ingin menangis juga…

“Noona!” Baro kembali menyapanya setelah satu minggu Minji absen sekolah. Minji sedikit terkejut dan takut ketika Baro menghampirinya di jam istirahat siang itu. Apa Baro tidak marah padanya?

“Kau kemana saja satu minggu ini, noona? Aku tidak melihatmu di sekolah?”

“O..oh, aku absen selama satu minggu..”

“Apa? Kau sakit, noona? Sekarang bagaimana?”

“Aku baik-baik saja, Baro..” jawab Minji. Baro tersenyum. “Kau…tidak marah?”

“Ha? Kenapa harus marah?” Baro mengedipkan matanya untuk Minji. “Hmm…sedikit kecewa iya…haha, saat itu aku memang tidak tahu harus berkata apa, tapi aku tidak harus marah pada hyung ataupun padamu, noona.”

Baro mengelus poni Minji dan tersenyum hangat untuknya. “Jangan melihatku seperti itu, aku malu,” celetuknya kemudian saat Minji hanya menatapnya dengan rasa kagum.

“Sepertinya aku….”

Sayang sekali, bel sudah berdering dan mereka harus kembali ke kelas masing-masing, sehingga Minji tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ah, nanti sepulang sekolah dia masih punya kesempatan untuk mengatakannya. Hwaiting  Minji!!!

Maka, sore itu, mereka kembali mengunjungi taman bunga indah yang tempo hari mereka datangi. Mereka duduk bersama di bangku taman sambil menikmati permen kapas. Minji yang sangat menyukai permen kapas, sampai lupa harus mengatakan sesuatu pada Baro. Tapi, sepertinya, Barolah yang akan menyatakan sesuatu kepada Minji. Ah…Baro memberinya setangkai mawar merah cantik, lalu menyanyikan lagu yang sangat menyentuh hati Minji (tentu saja dengan nada rap). Wuaaaah…

“Noona, kau suka laguku?”

Minji seharusnya menjawab ‘iya’, tapi ia hanya terdiam dan berusaha tidak menatap Baro. Dia seharusnya menerima bunga itu, tapi tangannya tetap menggenggam stick permen kapasnya. Wae? Apa yang sedang dilakukannya?

Baro…sepertinya memahami Minji, karena dia hanya tersenyum dan berkedip manja seperti biasanya. Kemudian Baro menguap lebar, dan  tertidur dipundak Minji.

Ada apa dengannya sore itu?? Minji sendiri tidak mengerti. Yah, terkadang manusia sulit memahami perasaannya sendiri. Ada bagian dimana dia sendiri tidak bisa menebak apa yang aneh dalam dirinya…

Minggu pagi, Minji menyempatkan dirinya menghadiri acara fanmeet grup Jinyeong dan Baro. Dia secara eksklusif memang dipanggil mereka untuk menghadiri acara tersebut. Anehnya, dia menjadi sedikit canggung saat bertatapan dengan Jinyeong. Apa yang harus dikatakannya setelah peristiwa seminggu yang lalu, ketika dia hanya menangis di halte bus dengan Jinyeong yang merawat lukanya. Ketika Minji kembali bersekolah, Jinyeong tidak hadir di kelas karena dia ada interview. Maka, inilah pertama kalinya dia dan Jinyeong kembali bertatap muka.

“Aisshh, eotteohke??” gerutu Minji pelan.

“Minji, annyeong,” sapa Jinyeong dengan senyum lebar. Minji membalasnya dengan senyum paksa dan buru-buru menghampiri Baro yang duduk di sudut meja. Tapi Jinyeong menahannya, dan berkata, “Waaah..sepertinya matamu tidak bengkak, ya? Hebat!”

“Mwo?!”

“Oppaaaaaaaa! Annyeoong haseyooo,” seorang fans yang sudah tiba di meja Jinyeong langsung menjerit histeris. Jinyeong langsung menyambut fansnya itu, sehingga Minji harus menelan kembali kata-katanya. Ia kembali berjalan menyusuri meja yang lain menuju tempat Baro (yang paling akhir). Baro senang sekali melihat Minji, dan mengambilkan kursi untuknya.

“Noona, lihat dia fans kami. Hi, annyeong,” sapa Baro ramah sampai fansnya itu menitikkan air mata.

“Wah, kau membuatnya menangis, Baro,” kata Minji. Tapi Baro hanya tersenyum, lalu memeluk fans itu. Oh, jadi ini fans service mereka. Minji segera melirik ke arah meja Jinyeong. Aneh, dibanding meja yang lain, tempat Jinyeong jauh lebih padat fansnya.

“Biasanya hyung mencium fansnya juga,” kata Baro saat melihat Minji mengamati Jinyeong.

“Apa?!! Benarkah?? Cih!! Dia itu sok lembut!”

“Hahaha, tapi hyung memang orang yang romantis.”

“Pihh! Dia tidak pernah memakai setangkai bunga dan bernyanyi. Aku rasa orang yang menganggapnya romantis itu salah besar! Baro, kau lebih hebat!”

“Kami sangat mencintai fans, noona,” Baro mulai menjelaskan saat fansnya menyerahkan topi rajutan dengan tulisan BARO SARANGHAE.

“Lalu kenapa dia selalu mengenakan jaket kuningnya itu?”

“Eh? Siapa?” tanya Baro, karena fans di hadapannya sekarang sedang memakai pakaian berwarna merah muda. Baro mengamati arah mata Minji, dan terkikik saat tahu Minji masih melirik Jinyeong dengan sinis. “Itu pemberian fans.”

“Oh, ya? Hmm…beruntung sekali cowok yang menghadiahkan jaket itu untuknya. Dipakai terus sampai orang berpikir dia tidak pernah mandi.”

Mendengar kalimat itu, Baro langsung meledak tertawa sambil menyalami fansnya.

“Noona! Kau ini bagaimana, sih? Noona tidak lihat? Itu, semua yang mengantri di sini adalah para gadis. Jaket itu tentu saja dari gadis.”

“Ga…gadis?”

“Iya. Hahaha.. Ah, tapi aneh juga, kenapa hyung memakainya terus ya? Aku juga punya topi rajutan dari fans, tapi aku tidak terlalu sering memakainya. Hmm, mungkin orang itu sangat berarti bagi hyung.”

“Oh..haha,” Minji tertawa pendek. Ia bersandar kembali di kursinya, mengamati Baro yang sedang asik menyapa fansnya. Paling tidak, hari ini dia mendapat banyak pengalaman dari teman-teman grup musik Jinyeong dan Baro. Minji sangat terkesan, mereka belum mendebutkan diri sebagai grup musik pendatang baru, tapi fansnya sudah begini banyak.

Waktu memang berlalu begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin sore Minji memasuki sekolah barunya, dan sekarang dia sudah harus berpisah. Meski berpisah dengan sekolah barunya, Minji tetap merayakannya dengan suka cita, karena hari ini adalah hari kelulusannya. Untuk merayakan kelulusan murid-muridnya, sekolah Minji mengadakan pesta perpisahan di sebuah pantai kawasan Seoul. Meski cuaca panas, semua tetap merayakan pesta  dengan meriah, apalagi Jinyeong dan B1A4 (begitulah nama mereka saat ini dan nanti ketika akan memulai debut) meramaikan acara dengan performance mereka yang menakjubkan.

Minji baru akan berjalan menghampiri Baro, tapi melihat cowok itu kepanasan dan sedikit lelah, dia memutuskan untuk membelikannya minuman. Minji pun mencari-cari kedai yang menjual minuman, tapi sepertinya semua kedai penuh dengan antrean panjang. Dia terpaksa berdiri di antrean paling belakang.

“Kau akan terus berdiri di sini sampai matahari terbenam, nona sombong.”

Minji melirik Jinyeong dengan sinis, lalu menjawab, “Aku adalah warga Korea yang baik. Jadi aku mengantri di sini, dan kalau kau mau membeli minuman juga, silakan berdiri di belakangku, jaket kuning.”

“Jaket kuning? Bukannya tadi kau sudah meminum banyak cola bersama para gadis? Kau masih haus juga?”

“Aku membelikan minuman untuk Baro,” kata Minji dengan senyum manisnya.

“Kenapa kau tersenyum manis begitu? Begitu sukanya dengan Baro sampai senyumnya selebar itu.”

“Apa maksudmu?”

Jinyeong hanya menepuk pundak Minji, lalu berkata, “Ayo bertanding siapa yang paling cepat mendapat minuman.”

“Mengantri saja di belakangku, dan jelas aku yang menang.”

Jinyeong berkedip nakal lalu menyelinap di barisan antri. Minji mengamatinya, dan betapa liciknya, Jinyeong menggunakan jurus tenarnya dengan menebar senyum yang paling manis. Dengan wajah tampan dan senyum menawan seperti itu, tentu semuanya merelakan tempat untuknya. Akhirnya Jinyeong kembali menghampiri Minji dengan menyeruput minuman segarnya.

“Kalau sudah selesai cepat kembali sana!!! Kenapa masih berkeliaran di sini?! Membuatku semakin kepanasan saja!!” teriak Minji.

“Kau ini! Dengan sifatmu yang pemarah itu, mana bisa kau menarik hati orang lain? Ckckck,” Jinyeong menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menyerahkan minumannya untuk Minji.

“Apa?”

“Ini, kau minum saja. Berdiri dari tadi apa kau tidak haus? Berikan uangnya, kau dan Baro mau minum apa?”

“Kenapa kau…” Jinyeong segera mengambil uang yang digenggam Minji dan menyerahkan minumannya, lalu kembali menyelinap di antrean yang penuh sesak itu.

“HEH JINYEONG??” teriak Minji saat Jinyeong menghilang di dalam antrean. Minji menghela napas dan mencari tempat untuk duduk. “Eh? Kenapa headphone dan mp4 dia ada di tanganku? Ck, dia itu… .”

Jinyeong kembali keluar dari antrean sekitar sepuluh menit kemudian, dan mendapati Minji sedang duduk di bangku, di bawah pohon kelapa. Ternyata Minji sedang tidur sambil mendengarkan mp4 milik Jinyeong. Jinyeong mendekati Minji dengan sangat pelan, karena takut gadis ini akan terbangun. Minji terlihat sangat manis dalam tidurnya, sehingga Jinyeong tersenyum-senyum saat mengamati wajahnya. Jinyeong meletakkan dua gelas minuman pesanan Minji, lalu….

“Hei, nona sombong.”

Minji langsung terbangun saat Jinyeong menempelkan minuman ke pipinya. “Eh?!!”

“Aku membangunkanmu dari tadi. Ini.”

“Loh? Ternyata itu mimpi?”

“Apa? Asik sekali kau ini, aku mengantri di sana dan kau bermimpi indah di sini?!”

Minji mengamati Jinyeong dengan penuh curiga. “Kau…tidak…”

“A…apa? Aku ti-tidak melakukan apa-apa.”

“Kau tidak menyeruput minumanku, kan?!!”

“Apa? Cih! Silakan,” Jinyeong menyerahkan minuman Minji. Minji mengambil minumannya dan segera pergi meninggalkan Jinyeong. Tapi sepertinya, mengikuti seseorang adalah hobi Jinyeong, karena dia masih saja mengekor di belakang Minji sambil berceloteh panjang.

“BERISIK!!” bentak Minji. “Ya ampun, dia bisa membuatku gila! Kenapa dia harus muncul di mimpiku?! Apapun yang terjadi aku tidak mau diciumnya!”

Kenapa Minji harus dicium oleh Jinyeong? Minji tidak harus mendapatkan ciuman Jinyeong, karena dia sudah meyakinkan hatinya untuk memilih Baro. Untuk itulah dia membelikan minuman. Tapi…kenapa bibirnya terasa hangat? Apakah mimpi bisa menjadi khayalan? Dan apakah khayalan bisa menjadi seperti kenyataan? Minji pasti hanya bersugesti akibat dari mimpinya, semua sugesti selalu terasa nyata. Maka, Minji harus berada jauh dari Jinyeong, karena ada hal yang paling ditakutinya akan benar-benar terjadi…

“Huahahaha! Minji kakak kelas baru itu?!”

Minji menghentikan langkahnya (membuat Jinyeong menabraknya: “Jangan berhenti tiba-tiba dong!”)  saat namanya disebutkan oleh teman-teman Baro dari kelas dua.

“Aku bertaruh, si Minji itu pasti akan segera meminta Baro untuk menjadi pacarnya!”

“Hei! Baro itu punya selera yang tinggi! Iya, kan?” gadis berambut pendek dan sangat centil mendekatkan dirinya pada Baro. Sayangnya, tidak ada yang menanggapinya, karena semua termasuk Baro, sedang terkejut melihat Minji.

“Cih! Kenapa dia harus marah? Memangnya dia istimewa bagi Baro?” kata gadis itu lagi dengan nada yang sangat keras. Minji akhirnya menghampiri Baro sebelum Jinyeong menghentikannya.

BYUR!

“YA!!!!!”

Minji menumpahkan semua minumannya di atas kepala gadis itu, tapi matanya terus menatap Baro dengan tajam. “Baro…bukanlah…seorang…pria…yang…rendah…sepertimu!” kata Minji dengan sangat pelan dan penuh amarah, lalu ia menatap gadis itu dengan penuh kebencian. Dan tanpa sepatah kata pun untuk Baro, Minji langsung pergi. Jinyeong ingin menyusul Minji tapi sepertinya dia harus menyelesaikan urusan Baro dulu.

Semua teman-teman Baro langsung diam saat Jinyeong datang. “Ayo,” ajaknya pada Baro. “Jangan berteman dengan mereka lagi. Aku yakin kau tidak seperti yang mereka katakan. Dan kalian, jangan lagi mendekati adikku!”

Jinyeong mengajak Baro bergabung dengan CNU, Sandeul, Gongchan, serta kru yang lain.

“Nanti kau jelaskan padanya,“ kata Jinyeong, sementara teman-teman yang lain merangkul Baro dengan penuh sayang. “Sudah, jangan seperti ini, dia pasti akan mengerti.”

Jinyeong memakaikan topi rajutan untuk Baro yang sedang menangis. Akan ada waktu untuk mencari Minji nanti. Sekarang, adiknya adalah yang terpenting. Meski demikian, kecemasannya akan dimanakah Minji berada sekarang, dan bagaimanakah perasaan gadis itu sekarang, membuat Jinyeong seperti kesulitan bernapas.

Jinyeong menghampiri Minji yang sedang duduk di pinggir pantai sore itu. Dia mengusap air mata Minji. Minji menengok ke arahnya dan mengerutkan kening.

“Aku kan tidak menangis.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kau mengusap pipiku?” tanya Minji bingung.

“Minji….adalah temanku. Dan temanku ini selalu menangis saat aku menghampirinya…aku tidak pernah tahu apa yang sedang dialaminya, dan aku juga tidak beharap dia memberitahuku. Tapi….hal yang paling ingin kulakukan adalah…andaikan aku mampu mengusap air matanya, temanku ini pasti tidak akan bersedih lagi…sayangnya…tanganku selalu terhenti..”

Minji menatap Jinyeong. “Pabo.”

“Aku senang, kali ini temanku tidak menangis lagi,” kata Jinyeong pelan sambil tersenyum hangat pada Minji. “Kau tidak marah pada Baro, kan?”

Minji menggelengkan kepalanya, lalu kembali menatap hamparan laut. “Ah! Matahari terbenam!”

Sore itu sepertinya akan menjadi kenangan yang indah untuk Minji. Dan saat itu dia pun yakin, sepertinya dia tidak pernah membayangkan mimpinya. Mungkin saja itu memang benar terjadi. Tapi, seharusnya Jinyeong mengatakan sesuatu tentang tidur siangnya tadi. Beuh…cowok ini malah memupuk kaki Minji dengan pasir pantai. Ah, Jinyeong tidak mungkin melakukannya… tapi, Minji seperti benar-benar merasakannya…

“Fiuh…” Baro tiba-tiba bergabung dengannya, dan duduk di sebelah Minji, sementara Jinyeong sedang menggali pasir pantai di kejauhan.

“Baro?”

“Ah…aku terlalu cengeng,” kata Baro, ia mengamati bando yang dipakai Minji. “Apa yang dilakukan hyung?”

“Dia mencari kerang. Dia itu bodoh atau apa sih?!”

“Hahaha! Noona, maaf ya…aku ini memang…”

“Kau baik. Aku tidak percaya dengan teman-temanmu tadi.”

“Aaah..noona, kalau kau seperti ini, aku malah semakin tidak pantas untukmu.” Minji menatap Baro. “Haha…biarkan aku menyukaimu sampai aku tidak bisa menyukaimu lagi, noona.”

“Uhmm? Maksudnya?”

Baro mencium pipi Minji.

“Ya!!” teriak Jinyeong dari kejauhan. “Kalau mau pacaran, sana di balik karang!! Mengotori pemandangan sore saja!”

Baro tersenyum dan berkedip untuk Minji. Minji menjadi salah tingkah karena Baro tiba-tiba mencium pipinya, tapi kemudian dia tersenyum dan mengamati Baro yang menghampiri Jinyeong mencari kerang.

“Kau mencari apa sih?” tanya Baro.

“Jangan ganggu, kalian cari tempat yang nyaman saja. Aku sedang sibuk,” jawab Jinyeong.

“Hyung, lihat,” Baro mengarahkan badan Jinyeong ke arah Minji. Dan betapa terkejutnya saat Jinyeong menatap bando yang dipakai Minji sore itu. Entah apakah karena bandonya atau cahaya dari semburat matahari tenggelam, sehingga Minji terlihat sangat cantik.

“Dia…”

“Cantik, ya?” kata Baro merangkul hyungnya. “Dia memakainya setiap hari.”

“Apa?”

“Haaa…masa punyaku dilupakannya… Kenapa wajahmu merah, hyung? Manis sekali,” Baro kemudian berbisik pelan tepat di telinga Jinyeong. “Uhmmm…aku melihatmu siang tadi, loh.”

Apa? Baro melihatnya? Wah, gawat… Bagaimana jika Baro menceritakannya kepada Minji? Ah…dia pasti akan sangat malu. Eotteohke?? Tapi dia sudah terlanjur mencurinya dari Minji… Ah! Dasar Baro! Dia datang di antara Jinyeong dan Minji secara tiba-tiba, dan pergi secara tiba-tiba pula. Seperti angin….

-END-

One thought on “{FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 4-END)

  1. Pingback: {FF} “Jinyoung vs Baro SEASON II: Baby I’m Sorry” (chapter 1) | B1A4 Jinyoung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s