{FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 3)

316272_280055835339009_100000037853660_1146866_278316496_n1

Rated: T

Genre: Romance Comedy

Cast: Jinyoung, Baro

Author: Peny

 

{Chapter 1} baca di sini

{Chapter 2} baca di sini

***

Hari itu Minji diminta menggantikan guru matematikanya untuk mengisi jam tambahan murid-murid kelas dua. Itu berarti, Minji akan mengajar adik kelasnya, dan ini sangat membuatnya nervous.

“Apa? Kau harus mengajar di kelas tambahannya murid kelas dua?” tanya Jinyeong ketika Minji menolaknya pulang bersama. “Kenapa harus kau?”

“Karena aku murid paling berprestasi, kan?”

“Haisshh! Baiklah, aku akan menunggumu.”

“Terserah kau. Aku pergi dulu.” Minji segera menjauh dari monster itu dan menggerutu sepanjang perjalanannya menuju ruang kelas dua. “Apa dia sudah gila?? Kita kan hanya berpura-pura?! Kenapa aku harus pulang bersamanya? Kenapa dia menungguku?!”

Mengajar di kelas dua ternyata tidak begitu buruk. Mulanya Minji mengecek daftar hadir adik-adik kelasnya, dan ketika tiba di nama Baro, dia segera mencari sosok tersebut. Baro mengangkat tangannya dan tersenyum manis kepada Minji. Wuah, benar-benar menegangkan. Minji menjadi serba salah tingkah saat mengajar, karena Baro terus memandangnya. Bahkan sampai jam tambahan itu selesai, Baro masih terus memandangnya.

“Uhmm…apa ada yang tidak kau mengaerti?” tanya Minji setelah semua murid kelas dua keluar dari kelas.

“Iya, aku sama sekali tidak paham tadi.”

“Wajar saja kau tidak paham,” Minji mencibir dengan sebal. “Kau sama sekali tidak menyimak apa yang aku terangkan tadi.”

“Hmm…kenapa ya?” goda Baro dengan senyum imutnya. Minji langsung tersenyum malu dan menghampiri Baro.

“Mana yang tidak paham?”

Baro segera membuka bukunya. Wow! Benar-benar…

“Kau tidak pernah mencatat yah? Kenapa bukumu bersih sekali?! Kau mirip sekali dengan hyungmu!”

“Benarkah? Ah, aku jauh lebih baik daripada dia!”

Minji segera menjelaskan beberapa materi yang tidak dipahami oleh Baro. Mereka terlihat sangat akrab. Baro tentu saja selalu penuh dengan candaan yang segar. Ini membuat Minji merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Lalu, seperti kenop pembalik waktu, pikiran Minji kembali teringat peristiwa di studio rekaman beberapa hari yang lalu. Ketika tangan lembut baro menggenggam jari-jemarinya dan membuatnya memerah di studio tersebut.

Sama seperti di studio tersebut, situasi sekarang ini sepertinya akan terjadi lagi. Baro mulai menatapnya dengan tajam. Huaaaa…eotteohke?

“Noona!” bisik Baro tiba-tiba, membuat Minji terlonjak kaget. “Ada sesuatu di rambutmu.”

“A..apa? Rambut?” Minji menyisir rambutnya, tapi tidak ada kotoran apapun.

“Biar aku ambilkan,” Baro mendekatkan wajahnya ke arah Minji. “Di sini,” bisik Baro di telinga Minji, lalu..

Cup~ Baro mencium lembut pipi Minji.

“Ee Minji!”

Belum sempat menengok ke arah Baro, suara Jinyeong segera melayang ke telinga Minji. Minji langsung berdiri dan menatap Jinyeong yang menghampirinya. Jinyeong menatap Baro sebentar lalu menarik tangan Minji.

“Ya!” bentak Minji.

“Bukankah kelas tambahannya sudah selesai? Ayo pulang. Baro, kami pergi dulu.”

Jinyeong mengucapkan salam perpisahannya dengan singkat lalu menarik Minji pergi dari kelas. Apakah Jinyeong melihat kejadian tadi atau tidak, Minji benar-benar berharap jawabannya adalah tidak.

“Kau mau kemana, sih?!!” teriak Minji dengan napas terengah-engah karena Jinyeong terus menariknya sampai di luar gerbang sekolah.

“Lain kali jangan berduaan dengan cowok lain jika aku tidak ada.”

“Apa?! Memangnya kenapa?! Kau kan bukan pacarku.”

“Aku tidak suka, jadi lain kali kau tidak boleh bersama cowok lain!”

“Hei!! Memangnya kita ini pacaran?!! Hei! Jinyeong!!!”

Jinyeong terus saja berjalan dan tidak menanggapi Minji yang sedang protes. Minji menendang kaleng minuman di depannya, tapi yang terjadi adalah ia meleset dan malah menendang pembatas trotoar dengan keras. Minji langsung mengerang keras. Jinyeong segera menghampirinya yang sedang terduduk di jalan.

“Kenapa?” tanya Jinyeong panik. Minji dengan mata berair menahan sakit, menceritakan bahwa ia mau menendang kaleng minuman supaya melayang dan mengenai kepala Jinyeong, tapi malah meleset.

“Pabo.” Jinyeong menggerutu sebal sambil menawarkan punggungnya.

“Aku bisa jalan sendiri,” tolak Minji.

“Haissshh!! Kenapa ada gadis yang menyebalkan sepertimu di dunia ini, sih?!!!”

Jinyeong segera menelpon taksi untuk mengantarkan Minji pulang ke apartementnya. Dalam hati, Minji bertanya, apakah Jinyeong benar-benar menganggapnya sebagai kekasih? Bukankah Jinyeong berkata mereka hanya akan berpura-pura? Jika ternyata tidak, lalu bagaimana dengan perasaan Minji?

Minji yang sedang melarikan diri dari Jinyeong, tanpa sengaja menabrak seseorang dengan sepedanya di depan gerbang sekolahnya.

“Ahh…maaf.. Aku minta maaf.”

“Oh…tidak apa-apa. Kau terluka?” tanya orang tersebut. Lalu setelah mereka saling tatap, dia langsung menyapa namanya, “Oh, Ee Minji? Hai!”

“Eh? Kau siapa?”

“Apa? Kau lupa padaku ya? Aku Shinwoo, teman Jinyeong. Kita bertemu di studio rekaman saat itu.”

“Oh! Iya! Aku ingat sekarang! Wuah beruntung sekali kita bertemu di sini! Hahaa… kalau begitu aku permisi.”

Tapi sepertinya Minji tidak diperbolehkan untuk pergi dari hadapan Shinwoo, karena cowok ini menarik tasnya. “Tunggu!”

“Ahaha..,” Minji tersenyum pasrah. “Ada apa? Aku sedang terburu-buru.”

“Aku…boleh aku meminta bantuanmu?”

“Bantuan?”

Shinwoo segera menjelaskan bahwa ia ingin sekali memberikan hadiah untuk kekasih tercintanya. Tapi, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dihadiahkannya, sehingga ia meminta bantuan Minji untuk memilihkan benda yang paling disukai gadis-gadis.

“Wuaaahh..manis sekali! Ahh…Shinwoo hebat sekali ya, kau keren dan sudah punya pacar.”

“Kenapa? Haha..tapi Jinyeong lebih hebat, karena kekasihnya sangat cantik,” puji Shinwoo dengan senyum ramahnya.

Minji langsung tersipu, tapi begitu ia ingat nama Jinyeong, senyumnya segera pudar. “Ah…baiklah. Aku juga sedang menghindari monster yang menyebalkan. Ayo.”

Minji dan Shinwoo segera menuju ke sebuah toko yang menjual barang-barang khusus para gadis. Shinwoo memarkirkan sepedanya dan menyusul Minji yang sudah sibuk memilihkan berbagai macam benda untuk kekasih Shinwoo. Shinwoo akhirnya memutuskan mengambil sebuah kalung cantik yang dipilih Minji.

“Ini sepertinya cocok untuknya. Aku ke kasir dulu, ya,” kata Shinwoo.

Sementara Shinwoo membayarkan kalungnya, Minji tertarik meilhat sebuah bando yang cantik. Ia mencobanya sebentar, lalu melepasnya saat Shinwoo menghampirinya. Minji menatap bando itu untuk terakhir kalinya, dan menyusul Shinwoo keluar dari toko.

“Apa? Bermain ke dorm??” pekik Minji saat Jinyeong mengajaknya ke dorm sepulang sekolah. “Tidak ah… Kalian kan cowok semua, aku malu.”

“Tenang saja, nanti mereka aku suruh pergi. Ayo, kita ke dorm. Ya?” bujuk Jinyeong.

“WHATTTT?! Are you crazy?!! Jadi kita hanya berdua saja di dorm? Tidak, terima kasih!”

“Ck! Bukan itu maksudnya… Tapi.. Aaaarghh, kenapa kau selalu menolak sih?!!!!” bentak Jinyeong setengah frustasi. Melihat Jinyeong yang kesal seperti itu, Minji akhirnya setuju diajak ke dormnya.

“Hanya ada member di grupmu, kan?”

“Iya, kau tenang saja.”

Begitu mereka masuk ke dorm, sebuah kue ulang tahun mendarat di depan wajah Minji. Member termuda yang bernama Gongchan, membawakan Minji kue ulang tahunnya. Seseorang di antara mereka yang bernama Sandeul menyanyikan lagu ulang tahun untuknya, dan Baro mengiringi dengan gaya rapnya. Minji menutup wajahnya saking malu dan terharunya.

“Chukhahaeeeeee,” kata Jinyeong kepada Minji.

Minji berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada mereka, lalu memotongkan kuenya untuk mereka semua. Jinyeong segera menyerahkan kadonya bersamaan dengan Baro. Minji menerimanya dan segera membukanya.

“Hah????” celetuk Sandeul ketika Minji mengeluarkan benda dari bungkusan Jinyeong dan Baro.

“Kenapa bisa sama?” tanya Gongchan.

Minji memandangi kedua bando hadiah dari Jinyeong dan Baro tersebut. Ia tersenyum lalu mengucapkan terima kasih untuk mereka berdua. Minji sendiri tidak menyangka, bagaimana bisa mereka berdua menghadiahkan bando yang sama seperti yang dilihatnya, ketika ia mengantar Shinwoo beberapa hari yang lalu.

“Terima kasih, Gongchan,” kata Minji ketika si magnae memberikan tiga kado darinya, Shinwoo dan Sandeul.

“Masih berpikir kau akan terjebak di dormku?” Jinyeong duduk di sebelah Minji dan membantunya membukakan kado-kado tersebut. Minji menatap Jinyeong sesaat, lalu tersenyum senang.

“Aku memang sedang terjebak.”

“Apa? Ini namanya kejutan,” omel Jinyeong, tapi ia tetap tersenyum melihat Minji yang asik membuka kado-kadonya. Jinyeong tiba-tiba memakaikan bando pilihannya untuk Minji. “Kau harus memakainya, ini hadiah istimewaku.”

Minji tersenyum, lalu bertanya, “Apa aku terlihat cantik?”

“Tentu.” Jinyeong mencium kening Minji dengan lembut.

“Ya!! Apa yang kau lakukan?!!”

“Memangnya kenapa? Tidak ada member di sini, mereka sedang melanjutkan latihannya di ruang sebelah.”

Bukan itu, bodoh! Mereka hanya berpura-pura pacaran, dan dengan Jinyeong yang mencium kening Minji, itu berarti pelanggaran. Minji langsung berdiri dan meninggalkan Jinyeong sendiri, sedangkan ia menyusul yang lain di ruang latihan.

***

“Noona!” panggil Baro di depan sebuah kafe. Minji segera menghampiri Baro.

“Oh, aku mencarimu, ternyata di sini?”

“Ayo, masuk,” ajak Baro. Ia menggandeng Minji memasuki kafe itu. “Aku pesankan minuman dulu, ya.”

Hari itu mereka sengaja mengatur janji, karena Baro berkata ingin belajar berdua dengan Minji. Maka, di kafe itulah mereka kini berada. Tapi, setelah berlangsung satu jam, Baro sama sekali tidak menanyakan masalah pelajarannya.

“Bukankah kita kemari untuk belajar?” tanya Minji.

“Aah..aku ingin bermain dengan noona… Bolehkan?”

Dengan senyum semanis itu, bagaimana Minji bisa menolak? Minji akhirnya menemani Baro sepanjang hari itu. Ah, mungkin dia meyukai Baro. Tapi, bagaimana dengan Jinyeong?

“Noona! Kita sudah sampai di apartemenmu,” ucap Baro membuyarkan lamunan Minji.

“Oh..terima kasih, Baro. Hari menyenangkan sekali.”

Baro mendekati Minji lalu memeluknya. Oh my god…

“Baro-ya??”

“Ah…aku harus bagaimana, noona?? Sepertinya aku menyukaimu..”

Kalimat terakhir Baro membuat degup jantung Minji menjadi sangat cepat dan tak beraturan. Minji hanya mampu menatap kakinya. Pikirannya kini malah tertuju pada Jinyeong. Seandainya saja ia dan Jinyeong segera mengakhiri permainan mereka, pernyataan Baro malam ini pasti akan ditanggapinya. Tapi…

“Noona… Aku ingin kau datang padaku setelah hyung memutuskanmu.”

“Ap..apa?”

Tapi Minji dan Jinyeong hanya berpura-pura pacaran. Ah, seandainya Baro tahu akan hal itu…

Baro mengucapkan selamat malam dan berpamitan kepada Minji, lalu menaiki sepedanya. Sementara Minji masih di luar apartementnya bersama pikiran-pikirannya mengenai hubungan palsunya dengan Jinyeong. Sepertinya memang harus diakhiri, sebelum semuanya berlanjut dengan sia-sia. Minji juga menyukai Baro, dan jika ia terus berpura-pura menjadi kekasih Jinyeong, maka Baro akan segera melupakannya.

Ah…ternyata mengakhiri hubungannya dengan Jinyeong tidak semudah yang dipikirkannya. Meskipun mereka hanya berpura-pura, tapi ia tetap belum mampu melakukannya. Eotteohkhaji?

Sementara Baro semakin hari semakin menunjukkan rasa sukanya kepada Minji. Baro semakin rajin menghampiri Minji ketika Jinyeong tidak berada di sekitarnya.

“Hyung tidak bersamamu?” tanya Baro sepulang sekolah.

“Dia bilang ada jadwal hari ini, kau sendiri?”

“Aku selalu bebas untukmu, noona,” katanya. Minji tersenyum, pipinya selalu memerah jika Baro menggodanya.

Mereka berjalan bersama menuju apartemen Minji, tapi hujan tiba-tiba mengguyur daerah Gangnam. Baro dan Minji segera berteduh di dalam box atm terdekat. Sayanganya, berteduh di dalam box atm sepertinya bukanlah ide yang bagus, karena AC di dalam box tersebut sangat kencang dan membuat mereka semakin kedinginan. Minji memindahkan tas ke depan tubuhnya karena dalam keadaan basah, seragamnya menjadi sedikit transparan. Baro melepaskan jaketnya dan memakaikannya untuk Minji.

“Terima kasih,” katanya setengah menggigil. “Tapi kau bagaimana?”

“Tenang saja, aku kuat,” jawabnya menahan dingin. Baro mengeluarkan topi rajutan dari dalam tasnya, “pakai ini, noona.”

“Baro…”

“Tidak apa-apa. Ini belum seberapa,” katanya sambil tersenyum manis.

Tapi hujan yang turun semakin lama semakin deras, dan hawa dingin dari hujan tersebut mulai menyisipi box atm. Minji yang tidak kuat menahan dinginnya udara, terhuyung dan menabrak kaca box atm tersebut.

“Noona?!!” Baro segera menahan Minji yang hampir terjatuh. “Tunggu sebentar,” Baro meletakkan beberapa buku di atas lantai dan mendudukkan Minji di sana.

“Noona kau kedinginan ya?”

“Sedikit,” jawab Minji. Baro ikut duduk di sebelah Minji, dan saat itu ponsel Minji berdering. Ah, Jinyeong sedang menghubunginya sekarang. Bagaimana ini?

“Ha-halo?” Minji berusaha membuat suaranya sedatar mungkin, tapi ia terlalu kedinginan dan suaranya menjadi sedikit bergetar.

“Kau kenapa? Suaramu aneh?” tanya Jinyeong dari sebrang telepon.

“E…aku baik-baik saja. Ada apa?”

“Kenapa suaramu bergetar begitu? Apa kau kehujanan? Kau sekarang dimana?”

Baro segera memeluk Minji. Eh? Minji kemudian paham maksud Baro. Baro berusaha membuat Minji hangat sehingga memeluknya, dengan begitu suaranya tidak akan bergetar karena kedinginan. Baro menggosok-gosok punggung Minji.

“Halo? Kau baik-baik saja, kan?” suara Jinyeong kembali menyadarkan Minji.

“O..iya, aku…aku sudah di apartemen.”

“Syukurlah..aku pikir kau kehujanan. Oh, ya, aku masih ada kegiatan, nanti aku hubungi lagi.”

Tut. Jinyeong memutuskan teleponnya, sedangkan Minji masih terpaku di tempat dengan Baro yang memeluknya. Aduh…bagaimana ini? Bagaimana jika Baro tahu? Baro akhirnya melepaskan pelukan Minji dan tersenyum kepada Minji.

“A..apa?” tanya Minji dengan muka memerah. Baro hanya tersenyum lalu kembali memeluk Minji. Minji yakin Baro memeluknya kali ini untuk memastikan bahwa jantung Minji sedang berdegup kencang.

“Katamu kau sudah di apartemen kemarin?”

Minji menghindar dari kontak mata dengan Jinyeong sore itu. Tapi Jinyeong terus mengikuti arah pandangan Minji. “Aku memang sudah di apartemen.”

“Kenapa kau jadi demam?!”

“Memangnya aku tidak boleh demam?!”

“Kau kan tidak kehujanan! Sebenarnya kemarin kau kemana?!”

“Aku di apartemen! Jangan bertanya lagi! Aku sedang tidak mood berdebat denganmu!”

Tapi Jinyeong tetap mendesak Minji untuk jujur. “Kemarin suaramu aneh. Apa kau kemarin…”

“Ya!!! Kepalaku pusing! Bisa tidak berhenti bertanya!!”

“Itu karena kau tidak jujur padaku, jadi aku…”

“Tidak jujur?!! Memangnya kenapa jika aku berbohong?!! Kita kan tidak benar-benar pacaran!!!”

“Apa?”

“Hei, Jinyeong! Apa selama ini kau berpikir kita ini sepasang kekasih betulan?! Cih!! Apa-apaan kau ini?”

“Baiklah!”

“Apa??” tanya Minji.

“Kita harus mengakhirinya.”

“Benarkah?? Waaaahhhh!!!” teriak Minji senang. Tidak disangka dia akan seberuntung ini.

“Jadi, bagaimana jika kita…”

“Terima kasih, Jinyeong!” sela Minji penuh dengan kelegaan.

“Eh??”

“Wuaaahh, Jinyeong, kau memang baik hati! Hahaha…”

“Kau senang sekali?” tanya Jinyeong dengan senyum lemah.

“Uhmm…terima kasih ya.. Ah, tapi, selama ini kau sudah sangat baik kepadaku. Terutama kejutan ulang tahun waktu itu.”

Jinyeong hanya menghela napas. Jika Minji bahagia dengan berakhirnya permainan mereka, maka Jinyeong hanya mampu melepasnya pergi. Lagipula dia dan Minji memang tidak akan mungkin berpura-pura pacaran untuk selamanya.

***

To be continue~

2 thoughts on “{FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 3)

  1. Pingback: {FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 4-END) | B1A4 Jinyoung

  2. Pingback: {FF} “Jinyoung vs Baro SEASON II: Baby I’m Sorry” (chapter 1) | B1A4 Jinyoung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s