{FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 2)

316272_280055835339009_100000037853660_1146866_278316496_n1

Rated: T

Genre: Romance Comedy

Cast: Jinyoung, Baro

Author: Peny (@jindeullie)

 

Chapter 1: baca di sini

****

Minji masih mengingat pertemuannya dengan cowok manis kemarin sore. Dia dengan senyumnya yang imut itu terus berbagi cerita lucu selama perjalanan menuju apartemennya. Ah, kenapa saat itu dia tidak menanyakan namanya? Tapi seragam cowok itu sama dengannya, jadi dia pasti satu sekolah dengan Minji.

            “Ah, senangnya,” celetuk Minji.

            “Apanya yang senang?” sebuah suara penuh bencana kembali menyapanya pagi itu. Minji menoleh ke bangku di sebelahnya.

            “Ini urusanku. Pihh!”

            “Ya! Bukannya kau bekerja di game center? Kenapa kemarin kau bolos?”

            “Itu juga urusanku!”

            Cih! Untuk apa Jinyeong bertanya-tanya seperti itu pada Minji? Minji tidak mempedulikan ocehan dan komentar Jinyeong. Ia menutup mukanya dengan buku matematika dan sibuk memahami rumus dihadapannya kini. Tapi…tetap saja suaranya yang bulat itu sangat mengganggu telinganya.

            “Kau ini bebek ya?! Menyebalkan sekali! Berbicara tidak ada hentinya!” omelnya pada Jinyeong lalu beranjak dari bangkunya dan keluar kelas. Kenapa jam pertama sangat lama? Ah, kenapa dia harus berangkat sepagi ini? Dan kenapa orang yang bernama Jinyeong itu selalu saja mengekornya?

            Ketika disibukkan dengan pikiran-pikiran yang membuatnya ingin mencabik-cabik muka Jinyeong, seorang cowok imut lewat di depan Minji. Oh?! Dia adalah cowok yang sore itu mengantarnya pulang! Minji ingat betul wajahnya. Ia bermata indah, bola matanya hitam dan besar, dua gigi depannya besar seperti kelinci yang imut, dan senyumnya sangat manis. Minji segera melambaikan tangan ketika cowok itu lewat.

            “Ah, an…,” belum selesai kalimatnya, si cowok langsung memasuki kelasnya tanpa menengok ke arahnya. “…nyeong,” Minji menurunkan tangannya.

Apa cowok itu tidak melihatnya? Tapi ia persis di depannya. Lalu kenapa ia tidak menoleh ke arahnya? Apa dia sudah lupa?

“Ya! Jinyeong-ah!! Sampai kapan kau akan mengikutiku terus?!” bentak Minji di depan game center.

“Aku kan memang sering kemari. Kenapa? Kau berpikir aku mengikutimu? Cih!” Jinyeong mendahului Minji memasuki game center tersebut.

“Cih?! Geurae….seberapa hebat dia sampai berani kemari?” Minji mengamati Jinyeong yang sedang bermain Warrior. Sepertinya dia tidak begitu hebat.

“Hahaha…kemampuanmu bermain buruk sekali,” kata Minji.

“Apa? Memangnya seberapa hebat kemampuanmu?!”

“Wae?? Kau mau bertanding denganku?? Jangan menangis jika kau kukalahkan. Hahaha!”

“Oh, ya? Baik. Ayo kita bertanding! Gadis jelek sepertimu pasti permainannya sangat buruk!”
“Apa?!!!! Kau menantangku?? Baik! Ayo! Jika kau kalah…”

“Apa? Jika aku kalah, apa?”

“Kau jadi pelayanku selama 1 minggu!”

“Baik! Dan jika kau kalah….”

“Aku jadi pelayanmu.”

“Bukan. Kau harus berpura-pura menjadi pacarku selama satu minggu.”

MWOOOOO?!!! Sirheo!!

“Huh! Bilang saja kau takut kalah!”

“Ya! Jinyeong!!! Aku bukannya takut kalah!! Tapi…,” tiba-tiba Minji memahami sesuatu yang menggelikan dan membuatnya terkikik geli.

“Apa?”

“Hahahaha…orang populer sepertimu ternyata belum punya pacar?? Huahahahaha! Aku dengar dari ahjussi penjaga gerbang sekolah, kau adalah seorang training dari manajement musik?? Bukankah kau artis? Kau belum punya pacar? Huahahahaa!”

“Terserah apa katamu. Kau hanya membual karena kau takut bertanding denganku. Pihh!”

“Jinyeong! Apa kau ini selalu menyebalkan seperti ini? Kenapa aku harus berpura-pura menjadi pacarmu jika kau kalah?!”

“Kalau kau tidak mau, berarti kau harus menang dariku.”

Minji benar-benar sebal dengan cowok ini. Dengan tiupan keras pada poninya, Minji segera mempersiapkan dirinya untuk memenangkan pertandingan konyol itu. Sayangnya, Jinyeong sangat hebat dalam bermain. Jangankan menang, yang ia dapat adalah kekalahan telak saat bertanding battle dengan Jinyeong. Semua pemain Minji dikalahkan dalam waktu tiga detik.

“YES!!! Aku menang!!” teriak Jinyeong senang. Ia tersenyum lebar sambil menatap Minji. “Bagaimana nona sombong??”

Aaaargh! Rasanya menyebalkan sekali sampai Minji ingin membanting mesin ding-dong tersebut ke arah Jinyeong. Bagaimana bisa ia kalah? Sekarang ia harus berpura-pura menjadi kekasihnya Jinyeong.

“Oke!! Satu minggu, satu bulan, atau pun satu tahun, terserah kau saja!!! Menyebalkan!!” omelnya lalu pergi mengambil tasnya.

“Kau mau kemana?” tanya Jinyeong.

“Aku mau kemana terserah padaku!”

“Hei! Namja-mu ini masih ingin di sini, kau mau kemana?”

“Ap..apa? Namja-ku??”

“Mulai detik ini kau sudah harus menjadi pacarku.” Jinyeong mengambil kembali tas Minji dan mengalungkannya di antara kedua lengannya.

“Nappeun namja*!!” [*bad boy]

***

Esok harinya, Jinyeong menjemput Minji ke apartemennya. Hari itu Minji harus melaksanakan tugasnya sebagai pacar (pura-pura) Jinyeong. Ia akan diperkenalkan ke teman-teman Jinyeong di manajemen musiknya. Jinyeong beralasan, bahwa manajernya akan menjodohkan Jinyeong dengan artis wanita yang tidak disukainya, sehingga ia harus berpura-pura sudah memiliki kekasih, sebagai alasan menolak.

“Kenapa kau berpenampilan seburuk ini? Apa kau tidak bisa tampil menawan?!”

“Heh! Aku tidak punya uang untuk membeli pakaian bagus!”

“Joha*. Ayo, mereka sudah menunggu,” ajaknya, lalu menarik Minji memasuki van hitamnya. [*well]

“Memangnya hari ini ada pesta?” tanya Minji saat van mulai meluncur.

“Hari ini kami akan latihan perekaman untuk MV album kami. Manajer sudah sangat ingin melihatmu, jadi aku ajak kau hari ini.”

“Haaaahh…aku takut sekali. Bagaimana jika mereka bilang aku jelek sekali?? Ah! Kau seharusnya jangan memilihku!”

“Kau jangan berisik! Aku belum begitu mahir mengendarai ini!”

“APA?!! KAU MAU MENGAJAKKU MATI??!!”

Studio rekaman itu sangat dipenuhi orang-orang profesional yang sibuk ke sana kemari. Minji sangat tegang ketika Jinyeong menggandeng tangannya memasuki studio tersebut.

“Hai, semua. Apa kabar? Kenalkan ini pacarku,” kata Jinyeong. Ia tersenyum kepada semua orang yang ada di studio. Minji terkejut ketika semua mata menatapnya.

“An…annyeong haseyo? Namaku Ee Minji.”

“Oah, hai, Minji,” sapa seorang cowok seumuran dengan Jinyeong. Ia berambut panjang seleher dan memakai kacamata. “Aku Shinwoo.”

“Dan aku maknae di sini, noona. Namaku Gongchan,” sahut cowok yang satu lagi. Ia tersenyum lebar kepada Minji. Minji membalas sapaan mereka semua dengan ramah dan sopan. Semua orang di studio itu memuji Minji bahwa ia sangat manis. Ini membuat Jinyeong tidak bisa berhenti menyunggingkan senyumnya.

“Ah, kau sudah datang?” kata Shinwoo kepada seseorang di belakang Minji. Minji pun langsung menoleh ke belakang, dan… Cowok dengan senyum manis yang tempo hari mengantarnya pulang, kini berdiri di hadapannya.

“Oh, Baro-ya, mana Sandeul? Oh, ya, kenalkan ini pacarku.”

Minji yang masih terkejut hanya diam saja. Ia baru menyapa cowok yang bernama Baro itu, setelah Jinyeong menyikutnya dengan keras. “A..aku Minji, annyeong?”

“Oh, jadi nama noona Minji?” sahutnya dengan senyum yang ramah seperti sore itu. “Aku Baro, noona. Dan dia Sandeul,” tambah Baro ketika cowok yang bernama Sandeul, seusia Baro, memasuki ruangan dengan wajah ceria.

Jinyeong menyuruh Minji duduk di antara kru, sementara ia dan teman-temannya bersiap untuk latihan rekaman pembuatan MV. Ketika mereka semua memulai latihan perekamannya, Minji benar-benar terpesona pada gaya manisnya Jinyeong dan gaya rap-nya Baro. Ah…igeo mwoya*… [what is this]

Setelah latihannya selesai, mereka semua bersorak gembira dan saling mengucapkan selamat. Jinyeong terlihat senang sekali dan memeluk teman-temannya satu per satu. Selesai mengucapkan terima kasih kepada sutradaranya, Jinyeong menghampiri Minji.

“Bagaimana?”

“Bagus,” jawab Minji sambil tersenyum manis. “Kau seperti leader mereka.”

“Aku memang leadernya. Oh, ya, kau tunggu sebentar ya, aku harus menemani mereka sebentar,” kata Jinyeong menunjuk ke arah teman-teman dan krunya yang sedang menonton hasil rekaman. Minji tersenyum dan mengangguk. Jinyeong kemudian melakukan sesuatu yang lain terhadap Minji. Ia memegang kepala Minji dengan lembut, lalu pergi menyusul temannya.

“Apa-apaan dia itu?” gerutu Minji dengan muka yang memerah. “Memangnya aku pacarnya?!”

“Noona!” bisik seseorang di sampingnya. Ternyata Baro, dan ia membawa dua kaleng jus. “Ini. Kau pasti sangat haus.”

“Ah, terima kasih, Baro.”

Sama seperti Baro yang sore itu mengantarnya pulang. Baro yang ini kembali berceloteh panjang lebar dan semua ceritanya sangat lucu. Ini membuat Minji senang dan lupa bahwa dia datang ke studio tersebut adalah untuk berpura-pura menjadi pacar Jinyeong.

“Mereka sepertinya serius sekali melihat hasil rekamannya?” tanya Minji.

“Tentu saja. Kami harus tampil sebaik mungkin dalam MV kali ini. Tapi aku senang, karena ada noona di sini.” Baro tiba-tiba menggenggam tangan Minji. Ini membuat Minji terkejut, tapi ia tidak menarik tangannya. Ia hanya menatap Baro dengan penuh tanya. Apakah Baro lupa bahwa Minji adalah kekasih Jinyeong? Meski hanya pura-pura, tapi setidaknya, Baro tidak mengetahuinya. Tapi mengapa cowok imut ini malah menggenggam tangan kekasih hyungnya?

***

To be continue

3 thoughts on “{FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 2)

  1. Pingback: {FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 3) | B1A4 Jinyoung

  2. Pingback: {FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 4-END) | B1A4 Jinyoung

  3. Pingback: {FF} “Jinyoung vs Baro SEASON II: Baby I’m Sorry” (chapter 1) | B1A4 Jinyoung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s