{FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 1)

316272_280055835339009_100000037853660_1146866_278316496_n1

Rated: T

Genre: Romance, Comedy

Cast: Jinyoung, Baro B1A4

Author: Peny (@jindeullie)

Noted:
Halo :) Sebelumnya saya mengucapkan banyak makasih buat Mega eonni, admin JiFC, udah ngijinin saya nge-post koleksi FF. Hehee. Sebenarnya, ini FF sudah lama, bahkan sudah pernah saya posting dulu. Mungkin di antara teman-teman JiFC sudah pernah membaca FF ini :)
Selamat membaca~

******

Ee Minji tengah berlari menuju gerbang sekolahnya yang baru. Ia berlari sambil berteriak, “TUNGGUUUUUUU! AHJUSSIIIIII JANGAN DITUTUP GERBANGNYAAAA!!” Tapi sayang, ahjussi penjaga gerbang itu sangat disiplin sehingga Minji tetap tidak diperbolehkan masuk.

            “Kau harus menunggu sampai jam pelajaran pertama selelsai!”

            “Ah, Ahjussi… Aku mohooooon..”

            “Dasar! Murid baru tapi sangat tidak disiplin!” gerutu ahjussi penjaga gerbang sekolah tersebut.

            “Mwo?!”

            Beberapa detik kemudian sebuah van hitam berhenti di depan gerbang sekolah Minji, dan seorang murid laki-laki keluar dari gerbang itu. Ketika melihat murid laki-laki tersebut menuju gerbang, si ahjussi langsung membukakan pintu gerbangnya.

            “A..a..Jinyeong-ah?!” sapa Minji. Murid tersebut segera menengok ke arahnya. “Err…kita kan satu kelas..kau ingat padaku, kan? Aku Ee Minji murid baru..ahaha.”

            Tapi murid yang dipanggil Jinyeong itu sama sekali tak mempedulikannya. Ia terus saja berjalan  menjauh dari pintu gerbang.

            “Tidak bisakah aku masuk bersamanya?” tanya Minji kepada si ahjussi.

            “Kau tetap di sini.”

            “Kenapa ahjussi mempersilakan dia masuk? Aku tidak. Cih! Memangnya dia siapa?!”

            “Semua orang tahu siapa dia. Apa kau tidak tahu?”

            “Molla!!”

Semenjak Minji bersekolah di SMA barunya tersebut, banyak yang tidak menyukainya dan banyak pula yang jahil terhadapnya. Mereka sering sekali menguncinya di kamar mandi, menyiramnya dengan air mineral, mendorongnya saat jam pelajaran olahraga, dan sebagainya. Meski banyak hal yang membuatnya kesal, tapi Minji tetap bertahan di sekolah barunya itu. Ia tidak peduli dengan teman-temannya yang sangat membencinya, ia hanya peduli terhadap prestasinya. Karena, dari prestasinya itulah ia mendapat beasiswa memasuki SMA Nunjin.

            “Sampai  kapan  mereka akan terus seperti ini?! Menyiramku dengan air, memangnya aku tidak pernah keramas?!!! Aaaaaaarghhh!!!” omelnya di toilet wanita. “Aaah, padahal aku harus menjaga game center hari ini!”

            Minji segera menuju tempatnya bekerja setelah rambutnya kering. Ia harus menaiki bis jurusan Gangnam, dari sekolahnya menuju game center. Sebenarnya Minji hanya bermain-main saja di tempat kerjanya. Ia hanya bertugas mengoperasikan alat-alat permainan di game center tersebut jika ada kerusakan, dan jika semua berjalan dengan normal, ia hanya akan bermain-main sepuasnya di sana.

            “Yey!! Aku menang lagi! Wuhuuuuu!”

            “Ah! Noona! Kau memojokkan pemainku terus, bagaimana aku bisa melawanmu?”

            “Heh! Itu karena kau tidak bisa bermain, jadi kau tidak bisa menyerang pemainku!” ledek Minji terhadap pengunjung yang menantangnya untuk bermain.

            BRAK!!!

            Minji dan pengunjung tersebut dikejutkan oleh suara gebrakkan di belakang mereka. Ada beberapa murid SMA yang berkelahi ternyata. Dan betapa beruntunganya, atau mungkin betapa sialnya, orang yang tengah ditindas oleh murid-murid SMA tersebut adalah Jinyeong si murid menyebalkan di sekolah barunya.

            “Jinyeong?”

            Ketika si anak SMA yang berbadan gemuk memukul wajah Jinyeong, Minji segera menghampiri mereka.

            “YAAA!!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN TERHADAP TEMANKU??!!” teriaknya seraya berdiri di depan Jinyeong.

            “Heh?! Kau siapa? Pergi sana sebelum kupukul juga wajahmu!” bentak murid gemuk tersebut.

            “Pergi sana! Ini urusanku,” bisik Jinyeong pelan. Tapi Minji pura-pura tuli dan tetap menantang murid-murid SMA yang nakal tersebut.

            “Ah, seragamnya sama dengan  anak itu, hyung!”

            “Oh, benar juga. Jadi kau memang temannya?! Haha, kau pasti sangat menyukainya ya?”

            “Apa? Heh! Kalian cepat pergi sebelum aku menyiksa kalian!”

            “Huahahaha!”

            PLAKK!

            “Minji!” Jinyeong yang terkejut langsung menarik Minji, tapi Minji malah…

            “YAA!! BERANI SEKALI KAU MEMUKUL WAJAHKU??!!” teriaknya sangat menakutkan.

            “A..ap..apa?!”

            Tanpa jeda yang panjang, Minji langsung menyerang murid gemuk tersebut. Ia menjambaki rambutnya dengan ganas sampai murid itu berteriak minta tolong. Tapi Minji yang terlanjur sangar, dengan sekali kibasan tangan langsung menjatuhkan kawan murid gemuk tersebut. Mereka segera lari mejauh dari game center setelah Minji melepaskan jambakkannya.

            “JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI KODOK!!! CIH!!”

            Minji merapikan rambutnya yang berantakan dan menatap Jinyeong dengan sebal. “Kenapa kau membawa kodok-kodok gila itu kemari, sih?!”

            “Aku kan sudah bilang jangan ikut campur.”

            “Kau pikir aku membelamu karena kita satu kelas? Pihh! Aku bekerja di sini, jadi aku melindungi tempat ini, bukan kau! Menyebalkan!”

            “Terserah apa katamu.”

            “Heh?! Kau mau kemana?? Lukamu baik-baik saja? Heh?!”

            Minji segera mengikuti Jinyeong yang pergi meninggalkan game center. Ia segera mengambil plester penutup luka dari tasnya dan menyusul Jinyeong yang sedang mencuci lukanya dengan air mineral.

            “Ini. Kau tutup dengan ini supaya tidak terkena bakteri,” kata Minji pelan sambil duduk di sebelah Jinyeong, di bangku halte bus.

            Jinyeong menatap Minji, lalu menerima plester tersebut. Ia melihat bekas merah di wajah Minji. “Kau tadi menakutkan sekali.”

            “Benarkah? Hahahaa.. Ah, tapi pipiku jadi sakit begini.”

            Jinyeong menempelkan botol mineral dinginnya ke pipi Minji. “Begini bisa mengurangi sakitnya.”

            “Wuaaahh..ternyata kau baik juga. Haha.”

            “Aku hanya tidak mau berhutang budi. Itu akan menyiksa hidupku.”

            “Apa?!”

            Jinyeong meninggalkan botolnya dan  memasuki van hitam yang sudah tiba di depan mereka. Minji menatap van itu dengan sebal, lalu membuang botol Jinyeong ke tempat sampah.

            PLANG!!

            “AOW!” pekiknya saat menendang tong sampah. Ternyata tong sampah dari besi itu tidak cocok dengan kakinya. Rasanya sakit sekali setelah menendangnya.

***

            Jinyeong menghampiri Minji di depan lokernya.

            “Pagi gadis mengerikan.”

            “Apa?!” bentak Minji sambil menutup pintu lokernya dengan keras, lalu pergi meninggalkan Jinyeong. Sayangnya Jinyeong masih mengekor di belakangnya, sampai membuatnya risih. Semua orang berbisik dan mendelik padanya. Minji akhirnya berhenti dan melirik Jinyeong dengan sebal. “Yaa!! Kenapa kau mengikutiku?!”

            “Ha? Siapa yang mengikutimu?! Bukankah kelas kita sama?! Ge-er sekali.”

            “Ap…apa?!! Ya!!”

            Minji kemudian mengikutinya masuk kelas. Tapi belum dua langkah menuju bangkunya, empat gadis nakal di kelasnya sudah menghadang dengan mata melotot. “Wae?

            “Kau berani menggodanya?!” Minji hanya mengerutkan kening karena tidak paham dengan ocehan mereka. Melihat Minji dengan ekspresi ganjil, dia menambahkan, “Lihat saja pembalasan kami karena kau berani mendekati Jinyeong kami!!!”

            Cih! Apa-apaan mereka itu! Minji tak mau ambil pusing, jadi dia dengan santai memasuki kelasnya dan segera mengganti seragamnya dengan pakaian olahraga. Ternyata ancaman keempat gadis nakal tadi bukan sekedar ancaman. Mereka mendorong Minji dengan kasar saat jam pelajaran oleharaga, sehingga ia terjatuh dan lengannya tergores.

            “Agh!!” pekiknya ketika lengannya terluka sangat parah. Mereka yang melihat Minji terjatuh dengan lengan berdarah itu hanya tertawa menghina. Jinyeong yang melihat pun merasa sangat marah dengan teman-temannya. Tapi mungkin jauh lebih baik jika ia tidak membuat suasana semakin panas. Tapi bagaimana dengan Minji…

Jinyeong melihat Minji berjalan keluar gerbang sekolah masih dengan pakaian olahraganya dan lengan yang terluka. Mengapa Minji tidak mengobati lukanya, sangat membuat Jinyeong merasa semakin bersalah. Ditambah lagi…

            “Kenapa dia tidak memakai sepatunya? Apa mereka juga membuang sepatunya?”

            Jinyeong yang mengikuti Minji dari belakang sudah bersiap melepas sepatunya, tapi kemudian hujan turun dan Minji memekik sebal.

            “Aarrghh!! Siapa yang menebar pecahan kaca di sini?!!! Aoww!!” Minji mengerang dengan marah. Karena saat itu hujan, wajah Minji menjadi sedikit basah. Tapi menurut pendapat Jinyeong, gadis itu seperti sedang menangis. Ah…eotteohke??

            “Apakah aku harus meminjami jaketku?” tanyanya pada diri sendiri. Sayangnya, Jinyeong tidak segera melakukannya dan sudah ada seseorang yang menolong Minji. Seorang cowok yang lebih muda darinya, menghentikan sepeda di hadapan Minji dan menebar senyum manis yang menurut Jinyeong adalah senyum maut.

            “Noona, baik-baik saja? Jangan menangis, ayo kuantar pulang.”

            Minji yang tengah terpana dengan senyum manisnya hanya berkedip dua kali dengan mulut ternganga. Darimana datangnya makhluk semanis ini…

            “Uhmm..apa kita saling kenal?”

            “Kenalannya nanti saja, ini hujan! Ayo naik,” ajaknya dengan ramah sambil menarik Minji duduk dibelakangnya.

            Jinyeong hanya mampu menyaksikan Minji dibawa pergi cowok tersebut.

            “Dia…sejak kapan dia naik sepeda ke sekolah? Sial!”

***

To be continue~

4 thoughts on “{FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 1)

  1. Pingback: {FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 2) | B1A4 Jinyoung

  2. Pingback: {FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 3) | B1A4 Jinyoung

  3. Pingback: {FF} “JINYOUNG A LINE VS BARO B LINE” (chapter 4-END) | B1A4 Jinyoung

  4. Pingback: {FF} “Jinyoung vs Baro SEASON II: Baby I’m Sorry” (chapter 1) | B1A4 Jinyoung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s